By: Prof. Roy Sembel
Berikut ini rangkuman hasil pengamatan dari seorang misionaris dan seorang konsultan manajemen terhadap karakteristik suatu bangsa. Misionaris Amerika yang telah tinggal di negara itu selama 25 tahun menyatakan bahwa interaksi dengan orang-orang dari bangsa itu memberikan kesan “...malas dan tak peduli terhadap waktu .... Hidup hanya untuk masa sekarang...”
Konsultan manajemen dari Australia yang disewa pejabat pemerintah negara tersebut untuk meneliti etos kerja di pabrik memberi laporan dengan bahasa sopan bahwa: “...Kesan saya terhadap buruh murah Anda berubah setelah melihat cara orang-orang Anda bekerja. Tak heran jika mereka dibayar murah karena kinerjanya memang rendah; melihat orang-orang bekerja, saya merasa bahwa bangsa Anda adalah ras yang santai dan telah puas dengan keadaan. Masalah waktu tidak masuk dalam pertimbangan mereka. Manajer pabrik mengungkapkan bahwa mustahil untuk mengubah kebiasaan yang merupakan warisan turun temurun.”
Coba Anda tebak Bangsa apa yang dimaksud? Mungkin sebagian dari Anda menebak: Indonesia. Ternyata bukan! Kejadian itu terjadi 1 abad lalu (awal abad 20). Bangsa yang dimaksud adalah bangsa Jepang! Bangsa Jerman pun pernah dianggap bangsa tak berguna. Majikan di Inggris dan Perancis pada pertengahan abad 19 sering mencela buruh asal Jerman sebagai pemalas dan hanya bekerja kalau mereka mau.
Situasi tersebut jelas jauh berbeda dengan keadaan kuartal terakhir abad 20. Bangsa Jepang dan Jerman sangat dikagumi etos kerjanya yang luar biasa. Rupanya serangkaian kejadian yang mendera telah mentransformasi kedua bangsa tersebut menjadi bangsa yang memiliki etos kerja yang dikagumi bangsa-bangsa lain. Pesan dari cerita tersebut, budaya bangsa yang hampir mustahil untuk diubah ternyata bisa berubah drastis.
Pada level individu, perubahan seperti itu, bahkan yang lebih drastis, bisa terjadi. Alkitab memberikan banyak contoh. Musa yang kelu lidah bisa menjadi duta bangsa Israel menghadap Firaun. Petrus yang berpendidikan rendah dan sempat menyangkal Tuhan Yesus 3 kali, berubah menjadi pemimpin yang berani dan berhasil memenangkan 3000 jiwa dalam satu hari. Saulus yang tadinya pembunuh orang Kristen, berubah menjadi rasul yang dipakai Tuhan memenangkan banyak jiwa.
Hal yang mustahil di mata manusia, tidaklah mustahil bagi Tuhan. Dengan kekuatan dan usahanya sendiri, mustahil bagi manusia untuk terlepas dari perhambaan iblis dan kutuk dosa. Kendati begitu, Tuhan berkuasa untuk mengubah situasi. Kita yang dulunya hamba iblis dan hidup dalam kutukan dosa diubah oleh Tuhan sehingga memiliki hidup baru yang penuh kemenangan sebagai anak-anak Tuhan, melalui kematian-Nya di kayu salib dan kebangkitan-Nya mengalahkan maut. Tuhan kita memang Maha Kuasa, Maha Pengasih, dan Maha Adil.
Jadi, bila ada di antara pembaca yang merasa hidupnya sudah berantakan dan mustahil untuk diubah menjadi baik, coba pikir ulang! Contoh-contoh di atas menunjukkan bahwa pecundang bisa diubah menjadi pemenang, terlebih lagi bila Tuhan campur tangan. Tiada yang mustahil bagi Tuhan. Kuncinya adalah percaya dan taat melakukan perintah Tuhan sesuai dengan Firman-Nya! “...Tidak ada yang mustahil bagi orang yang percaya!...” (Markus 9:23b) “... Sebab bagi Allah tidak ada yang mustahil...” (Lukas 1:37)
Salam WISDOM!
Sumber: Majalah Bahana, Oktober 2009
11:44 AM
MS
Posted in: 

0 comments:
Post a Comment