Showing posts with label Vitamin Rohani. Show all posts
Showing posts with label Vitamin Rohani. Show all posts

Monday, September 12, 2011

OVER THE TOP

By: Pdt. Dr. Rubin Adi Abraham

Ada seorang anak bernama Victor Serebriakoff. Pada usia 15 tahun gurunya mengatakan bahwa ia tidak akan dapat menyelesaikan pendidikan dan sebaiknya berhenti sekolah untuk belajar ketrampilan. Victor menerima nasihat itu dan selama 17 tahun berikutnya dia menjadi pengembara yang melakukan pekerjaan serabutan. Dia diberitahu bahwa dia orang “tolol” dan selama itu pula dia bertindak sebagai orang tolol. Pada usia 32 tahun, ia menjalani tes psikologi dan ternyata ia seorang jenius dengan IQ 161. Sejak itu ia bertindak sebagai orang jenius. Dia mulai menulis buku, mendapatkan sejumlah hak paten dan menjadi usahawan sukses. Dia juga kemudian terpilih menjadi ketua “International Mensa Society” yaitu perhimpunan orang jenius yang mensyaratkan anggotanya memiliki IQ minimal 140.

Apa yang merupakan momen perubahan radikal dalam diri Victor? Kesadaran bahwa dia bukan seorang pecundang tolol, tapi dia memiliki potensi yang sangat besar yang harus dikobarkan. Ketika dia melihat dirinya sedemikian dan hidup sebagai orang besar, maka keberhasilan diberikan Tuhan kepadanya. Seperti Victor, kita pun harus menyadari bahwa Tuhan memiliki rencana besar dalam hidup kita. Dia ingin kita mengalami kehidupan yang berhasil dan penuh mukjizat. Allah itu tidak terbatas. Tapi kitalah yang seringkali membatasi kuasa- Nya dengan pikiran kita yang terbatas dan hati kita yang sempit. Nah, karena Allah tidak bisa memberkati orang yang kapasitas hatinya sempit, maka kita harus merubah pola pikir kita dan menyelaraskannya dengan pola pikir Allah (Rm. 12:2). Yesus berkata, “Sesungguhnya barangsiapa percaya kepada-Ku, ia akan melakukan juga pekerjaan-pekerjaan yang Aku lakukan, bahkan pekerjaan-pekerjaan yang lebih besar daripada itu.” (Yoh. 14:12). Itu berarti Tuhan ingin agar kita hidup di atas rata-rata.

Untuk mencapai hal itu kita harus membuang roh mediokritas, merasa puas dengan hasil lumayan. Banyak orang ketika ditanya, “Apakah Anda bahagia dengan hidupmu? Apakah Anda sudah meraih sukses dalam kariermu?” Maka jawabannya adalah, “Lumayan”. Mengapa kita puas dengan nilai C atau B bila kita bisa meraih A? Mengapa kita puas dengan hasil yang lumayan, bahkan hasil yang baik, padahal kita bisa meraih yang terbaik? Proklamator Indonesia, Ir. Sukarno pernah berkata, “Gantungkan cita-citamu setinggi bintang di langit”. Milikilah impian yang tinggi, miliki keinginan yang kuat untuk hidup di atas rata-rata.

Orang yang punya spirit of mediocrity cirinya antara lain: suam-suam kuku, setengah-setengah, rata-rata, asal-asalan, ahli cari alasan, kurang mau ambil resiko, tidak proaktif, pasif. Sebaliknya, orang yang punya spirit of excellence melakukan sesuatu dengan segenap hati, segenap pikiran dan segenap kekuatan (Mat. 22:37). Orang yang hidup di atas rata-rata itu siap bertanggung jawab serta punya komitmen penuh untuk melakukan yang terbaik seperti untuk Tuhan.

Perhatikan orang yang memiliki berbagai kekurangan ini, tapi di kemudian hari dikenal sebagai orang yang hidup di atas rata-rata: Musa seorang gagap bicara yang jadi pembebas Israel, Daud anak tertolak dan gembala domba jadi Raja Israel yang berkenan di hati Tuhan, Ester anak yatim piatu jadi ratu dan menyelamatkan Israel, Simon Petrus nelayan yang pernah menyangkali Yesus jadi rasul besar, perempuan Samaria yang tukang kawin jadi penginjil Samaria, Tomas si peragu jadi martir di India bagi Yesus. Mereka adalah orang-orang yang mengatasi roh mediokritas dan mencapai puncak kejayaan. Bagaimana dengan Anda? Mari bulatkan tekad untuk meraih yang terbaik. Miliki keuletan untuk mencapai hal itu dan andalkanlah kuasa Allah. Saya yakin jika Anda memiliki visi yang besar yang digabung dengan kekuatan doa, maka hasilnya: tidak terbatas! Dan jika Anda melakukan hal itu mulai hari, maka tahun ini akan menjadi tahun kegemilangan bagi Anda!

Sumber: Majalah Bahana, Januari 2010

Unstoppable

By: Jonathan Prawira

Janganlah kita jemu-jemu berbuat baik, karena apabila sudah datang waktunya, kita akan menuai, jika kita tidak menjadi lemah. (Gal. 6:9)

“Tangkap pencuri bunga itu!” Daud mendengar warga berteriak-teriak, tapi tidak berminat membantu karena sedang bete pada nabi Samuel, pada hidupnya, dan yah, pada TUHAN juga. Ia jemu dijanjikan menjadi raja karena kenyataannya nasibnya tetaplah ‘raja domba’.

Tiba-tiba matanya menangkap bayangan mengendap-endap di sekitarnya seperti serigala yang hendak menerkam domba. Ternyata, si pencuri bunga! Daud pun diam-diam mengikuti si pencuri untuk menangkapnya. Hitung-hitung kegiatan pengusir kebosanan. Dilihatnya si pencuri berhenti di suatu pekuburan. Dengan heran Daud mengamati, apa yang dilakukannya?

Si pencuri menaruh bunga di sebuah kuburan sederhana dan berkata, “Ibu, selamat ulang tahun! Maaf, aku tidak bisa membeli hadiah apapun karena uangku habis dipakai bapa bermabuk-mabukkan. Aku tahu apa yang kuperbuat ini salah, tapi hanya inilah caraku menunjukkan cinta pada ibu.”

Daud tidak jadi menangkap pemuda itu karena berpikir, “Ia rela melakukan hal yang sudah melanggar agama dan hukum demi mencintai seseorang yang sudah meninggal. Tapi, aku tidak rela melakukan hal yang baik dan indah demi orang yang mencintai aku seperti Guru. Bagaimana mungkin aku menangkapnya? Aku lebih berdosa dari padanya.”

Apapun yang kulakukan, akan kulakukan bagi-Mu ya TUHAN.
Melakukan sesuatu bagi TUHAN tidak berarti meninggalkan pekerjaan di dunia. Kenyataannya, melakukan sesuatu bagi orang yang kita kasihi akan memberikan kita motivasi yang kuat. Namun bila kita melakukan sesuatu bagi orang-orang yang TUHAN kasihi, itu akan memberi motivasi yang kuat bagi TUHAN untuk menolong kita mewujudkannya.

Sebab semua jerih payah, di dalam-Mu TUHAN takkan pernah sia-sia.
Memandang manusia bukan sebagai sumber berkat namun sebagai salah satu saluran berkat, akan memberi kita pengharapan. TUHAN bisa memakai cara apapun atau siapapun untuk memberi upah bagi orang yang bekerja bagi-Nya, di bidang apapun, melalui profesi apapun.

Tiada satupun yang dapat menghentikanku, memberikan yang terbaik bagi-Mu Tuhanku.

Kelahiran Yesus sebagai bayi yang lemah di kota kecil, di keluarga biasa-biasa, hendak dibunuh oleh raja Herodes, membuktikan bahwa bukan latar belakang baik, keadaan diri terbaik, lingkungan terbaik, atau pendukung terbaik yang membuat seseorang bisa memberikan yang terbaik. Tekad kita sendirilah yang membuat perbedaan.

Tiada satupun yang layak menghalangiku, menerima yang terbaik dari-Mu
(lagu Tiada yang Dapat Menghentikanku dari album Unstoppable). Ciri-ciri pengubah dunia adalah menolak dipengaruhi dunia. Meskipun belum tentu mengubah dunia berarti mengubah nasib. Kita tidak bisa mencegah orang lain melakukan apapun terhadap kita. Tapi kita bisa mencegah diri kita tidak terpengaruh oleh apapun yang diperbuat orang lain. Orang boleh merasa punya hak menilai kita, tapi akhirnya hanya TUHAN-lah yang paling berhak dan berkuasa menilai dan menentukan masa depan kita. Salam inspirasi, selamat menerima yang terbaik dari TUHAN dengan kekuatan yang kita peroleh saat menyembah-Nya.

Worship partner Anda, Jonathan Prawira

Sumber: Majalaha Bahana, Januari 2010

Menjadi Pribadi Berharga dan Bermutu di Mata Allah

By: Pdt. David Henky Benaya

Bagi penduduk Yerikho nama Zakheus begitu populer. Kepopulerannya bukan pada sesuatu yang baik melainkan sebaliknya. Bahkan bukan hanya buruk tetapi kejam dan jahat. Dia berprofesi sebagai pemungut cukai.

Tugasnya memungut pajak dari orang-orang Israel. Waktu itu bangsa pilihan ini tengah mengalami penjajahan dari bangsa Romawi. Sebagai orang jajahan mereka harus menanggung beban berat. Diperlakukan semena-mena. Harta dan hasil usaha dikenakan pajak.

Dalam situasi demikian orang-orang yang berprofesi sebagai pemungut pajak atau cukai kerap memeras rakyat. Melebihi pajak yang dikenakan Romawi. Mereka memanfaatkan profesinya untuk memperkaya diri sendiri. Menumpuk harta di rumahnya. Hidup senang di atas penderitaan orang lain. Sejatinya mereka adalah orang sebangsanya.

Akan tetapi, sesuatu mengubahnya. Ia kini membagi-bagikan hartanya kepada orang banyak. Orang-orang yang ia peras hartanya dikembalikan. Tidak cukup itu. Kurang lebih empat kali lipat dari harta yang diperasnya dikembalikan oleh Zakheus.

Kini ia menjadi buah bibir. Orang menyebut namanya dengan hormat dan kekaguman. Bukan karena kejahatannya lagi. Tapi karena kebaikannya. Pajak yang dipungutnya dihitungnya dengan benar. Ia juga memberi keringanan kepada orang yang sulit membayar pajak. Singkatnya, si jahat telah berubah.

Mengapa Zakheus Berubah?
Karena perjumpaannya dengan Yesus Kristus! Juruslamat itu menghampirinya. Sosok yang begitu populer menghampiri Zakheus. Ia yang menyembuhkan orang luka. Membangkitkan orang mati. Bisa membuat ahli Taurat dan orang Farisi terlihat ternganga. Dia juga yang meredakan angin ribut dan mengenyangkan ribuan orang, singgah di rumah Zakheus.

Sesuatu yang di luar perkiraan. Padahal tadinya, ketika Yesus lewat Yerikho, ia hanya ingin melihat saja. Ia hanya ingin tahu seperti apa Orang Nazaret itu? Begitu banyak orang berkerumun menyulitkan dirinya yang pendek. Padahal sedikit lagi Yesus bisa saja berlalu dari Yerikho. Saking rindunya, ia mendahului orang banyak dan menaiki pohon.

Akan tetapi, apa yang terjadi? Yesus yang lewat di bawah pohon yang dinaiki Zakheus menengadah dan menyapa dirinya. Yesus kenal dia. Yesus menyebut namanya. Yesus mau menumpang di rumahnya. (Luk 19:5). Sungguh tidak terbayangkan sebelumnya.

Kini sukacita ada pada Zakheus. Yesus singgah ke rumahnya. Rumah seorang pemungut cukai. Karena sukacita ia tidak peduli sungut-sungut orang banyak. Yang penting Yesus, Juruslamat itu ada di rumahnya.

Karena sukacita ia pun berdiri dan berkata: “Tuhan, setengah dari milikku akan kuberikan kepada orang miskin dan sekiranya ada sesuatu yang kuperas dari seseorang akan kukembalikan empat kali lipat.” (Luk. 19:8)

Zakheus membuktikan bahwa kini harta tidak berarti apa–apa baginya. Kehadiran Yesus sudah lebih dari cukup. Dia telah memiliki Yesus di dalam hidupnya. Hidupnya kini berarti, berharga, bernilai, bermutu di hadapan Allah.

Perubahan yang terjadi pada Zakheus membawa perubahan besar di Kota Yerikho. Sukacitanya berimbas bagi banyak orang. Dan karena itu Allah menganugerahkan berkat yang berlimpah. Kata Yesus kepadanya; “Hari ini telah terjadi keselamatan kepada rumah ini, karena orang ini pun anak Abraham.” (Luk. 19:9)

Allah merespons Zakheus dengan luar biasa. Berkat dan kemurahan bukan hanya bagi Zakheus tapi pada orang di sekitarnya. Karena Zakheus, berkat Allah berlaku pada keluarganya, dan komunitasnya. Ia pun disebut sebagai representasi dari generasi Abraham. Tidak hanya itu, ia pun dimeterai mewakili figur Abraham. Bapa orang beriman.

Betapa berharga, bernilai, dan bermutunya Zakheus di mata Allah. Hal yang yang sama juga bisa berlaku untuk kita.

*) Penulis adalah Ketua Umum Gereja Gerakan Pentakosta (GGP), Gembala Sidang GGP Immanuel Bogor

Sumber: Majalah Bahana, Januari 2010

Tahun

By: Yonky Karman Ph.D

Tahun dapat menghebohkan? Itulah 2012. Kiamat dunia yang biasanya dijumpai dalam teks-teks apokaliptik kini difilmkan dan dikaitkan secara ilmiah dengan kehancuran bumi. Persoalan sebenarnya bukan apakah akan terjadi sesuatu pada tahun 2012, tetapi apakah kita atau anak cucu kita siap menuai bencana karena perilaku sehari-hari kita sekarang.

Sebenarnya aktivitas kitalah yang menyebabkan kita semua berada dalam bayang-bayang malapetaka global. Alan Weisman berangan-angan seandainya bumi dapat memulihkan sendiri kerusakannya (The World Without Us, 2007). Setiap pasangan nikah dengan sukarela hanya punya satu anak untuk menstabilkan populasi manusia pada akhir abad ini, yakni pada angka 1,6 miliar, kurang lebih menyamai populasi penduduk dunia pada tahun 1900. Jika itu terjadi, diperkirakan akan lebih banyak bagian Bumi menjadi daerah tak bertuan dan selamat dari kehancuran.

Menurut Intergovernmental Panel on Cimate Change (2007), selama tahun 1990-2005 terjadi peningkatan suhu di seluruh Bumi, rata-rata 0,15-0,3ºC. Jika peningkatan suhu berlanjut, diperkirakan tahun 2040, lapisan es di kutub-kutub Bumi akan habis meleleh. Udara akan sangat panas. Napas terganggu asap dan debu. Luapan air laut makin luas. Pada tahun 2050 akan terjadi kekurangan air tawar. Kelaparan meluas di seluruh dunia. Jutaan orang berebut air dan makanan.

Di Indonesia, sepanjang tahun 1980-2002 suhu Kota Medan (Sumatera Utara) meningkat minimum 0,17ºC per tahun. Denpasar mengalami peningkatan suhu hingga 0,87ºC per tahun. Salju yang dulu menyelimuti satu-satunya tempat bersalju di Indonesia, Gunung Jayawijaya di Papua, mungkin nanti tidak ada lagi. Menurut hasil studi yang dilakukan ilmuwan di Pusat Pengembangan Kawasan Pesisir dan Laut, ITB (2007), permukaan air laut Teluk Jakarta meningkat setinggi 0,8 cm. Jika suhu bumi terus meningkat, diperkirakan pada 2050 banyak daerah di Jakarta dan Bekasi akan terendam, seperti Kosambi, Penjaringan, Cilincing, Muaragembong, Babelan, dan Tarumajaya.

Sebagai negara kepulauan, Indonesia harus waspada dengan garis kedaulatan wilayah negara yang dapat menyusut. Es yang meleleh di kutub mengalir ke laut lepas dan menyebabkan permukaan laut meningkat. Pulau-pulau kecil terluar Indonesia dapat lenyap dari peta Bumi. Diperkirakan dalam 30 tahun mendatang sekitar 2.000 pulau di Indonesia akan tenggelam. Dampak sosial-ekonomisnya, jutaan orang di pesisir pulau kecil kehilangan tempat tinggal. Hancurnya aset usaha wisata pantai. Lenyapnya harta benda dan nyawa manusia. Sekarang saja sudah terasa salah satu efek pemanasan global. Hujan deras masih sering datang, meski sudah di bulan yang seharusnya musim kemarau. Pergantian musim kemarau ke musim hujan terus bergeser dan sekarang sudah berselisih nyaris sebulan dari normal.

Namun, tidak semua bencana karena efek pemanasan global. Banjir besar di negeri kita juga karena kerusakan hutan. Indonesia menjadi negara terbesar ke-3 di dunia sebagai penyumbang gas rumah kaca dari kebakaran hutan dan pembakaran lahan gambut (yang diubah menjadi permukiman atau hutan industri). Jika kita tidak menyelamatkan hutan mulai sekarang, mungkin 5 tahun lagi hutan di Sumatera akan habis, 10 tahun lagi hutan di Kalimantan, 15 tahun lagi hutan di seluruh Indonesia. Anak cucu kita tidak lagi dapat menghirup udara bersih.

Jika kita tetap boros energi, Bumi dapat sepanas Planet Mars dan tiada makhluk yang dapat hidup. Jika kita mengabaikan tanggung jawab ekologis dan terus membiarkan perusakan lingkungan, kita seperti sedang membunuh diri (ekosida). Mari kita melakukan langkah-langkah kecil mendinginkan Bumi dan membersihkan udara. Hemat memakai listrik. Memakai lampu hemat energi. Menanam pohon di lingkungan sendiri. Jika mungkin, memakai kendaraan umum. Tidak menghidupkan mesin mobil saat menunggu lama. Hemat memakai kertas lantaran bahan bakunya dari pohon di hutan. Meminimalkan pemakaian bahan plastik lantaran tidak ramah lingkungan. Mari merayakan Tahun Lingkungan.

*) Penulis adalah Rohaniwan & Pengajar di Sekolah Tinggi Teologi Jakarta

Sumber: Majalah bahana, Januari 2010

CINTAILAH TEGORAN

By: Pdt. Yohanes Sungadi, S.Th

Pada umumnya, kebanyakan manusia sulit menerima tegoran. Melalui tulisan ini saya berharap bisa menjadi bahan koreksi. Syukur-syukur mencintai tegoran. Alkitab katakan, “Jikalau si pencemooh kau pukul, orang yang tak berpengalaman menjadi bijak. Jikalau orang yang berpengertian ditegor, ia menjadi insyaf” (Ams. 19:25).



Biasanya, bila jemaat ditegor melalui firman-Nya, ada yang pura-pura mendengar, ada pula yang pura-pura mengerti, kemudian menjadi emosional dan mengancam tidak akan ke gereja atau persekutuan. Namun, ada pula yang menyadari. Akhirnya menjadi insyaf, kemudian berdoa dan bertobat. Itulah karakter manusia.



Apakah yang dimaksud dengan berpengertian itu? Alkitab mencatat bahwa orang berpengertian adalah yang mengenal Allah yang Mahakudus....dan mengenal yang Mahakudus adalah pengertian (Ams. 9:10). Jadi, orang yang mengenal yang Mahakudus adalah berpengertian.



Kita tahu bahwa Anak Allah telah datang dan telah mengaruniakan pengertian kepada kita, supaya kita mengenal yang benar di dalam Kristus. Dia adalah Allah dan kita ada di dalam yang benar dan hidup yang kekal (1 Yoh. 5:20).



Kalau kita mengenal Allah yang benar, maka kita harus beribadah dengan sungguh-sungguh. Jangan beribadah kepada ilah lain, misalnya dukun, paranormal atau orang pintar. Jadi, tegoran itu mampu mengusir kebodohan kita bila kita bersedia, menjadi insyaf dan sadar.



Apa Akibat Membenci Tegoran?



Akan Menjadi Dungu

“Siapa mencintai didikan, mencintai pengetahuan. Tetapi siapa membenci tegoran adalah dungu” (Ams. 12:1).

Orang dungu itu sulit mengerti, sama dengan orang bebal. Seperti Nabal, orang bebal suami Abigael. Nama Nabal punya arti bebal hatinya. Nabal tidak mengenal Daud sebagai panglima Israel. Ini ´kan aneh, dombanya dijagai oleh Daud dan tentara. Sehingga tidak kehilangan domba-dombanya itu (1 Sam. 25).



Akan Menjadi Tersesat

“Siapa mengindahkan didikan, menuju kehidupan, tetapi siapa abaikan tegoran, tersesat.” (Ams. 10:17).

Orang yang mengabaikan tegoran akan tersesat. Artinya, kalau ada permasalahn dalam kehidupannya ia lalu mencari orang pintar bukan mencari Tuhan. Saya punya kakak, pada waktu sakit malah mencari dukun, kemudian diberi air untuk diminum. Namun, ia malah tambah hancur. Setelah didoakan oleh orang Kristen, ia sembuh dan bekas patahnya pun tidak ada setelah di rontgen di rumah sakit. Ia akhirnya bertobat dan menjadi pendeta.



Jangan tersesat, andalkan Tuhan. Dia dokter di atas segala dokter (Jehova Rapha, Keluaran 15:26), bandingkan dengan Yeremia 17:5, 7.



Kita Akan Mati

....Dan siapa benci kepada tegoran akan mati (Ams. 15:10). Mati di sini bukan berarti mati jasmaninya, tetapi mati dalam hal rohani. Seperti Adam dan Hawa ketika jatuh dalam dosa, mereka menolak tegoran, akibatnya putus hubungan dengan Tuhan. Itulah yang dinamakan mati rohani.

Maka, mulai sekarang belajarlah mencintai tegoran. Memang tidak mudah. Tapi, siapa mencintai tegoran, karakternya akan bertumbuh ke arah Kristus.

* Penulis, hamba Tuhan yang melayani di Persekutuan Doa Bukit Zaitun Surakarta

Sumber: Majalah Bahana, Januari 2010

2010

By: Prof. Roy Sembel

“...Barangsiapa tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia, ia berbuah banyak, sebab di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa...” (Yohanes 15:5b)

Ya betul, judulnya tidak salah tulis! Bukan 2012, melainkan 2010! Tulisan ini memang bukan tentang fiksi akhir zaman seperti film bioskop yang banyak dibicarakan orang, melainkan tentang realitas yang kita hadapi di depan kita.

Tahun 2008 dan 2009 merupakan masa yang tidak mudah bagi perekonomian dunia. Sebagian besar negara-negara maju seperti AS, Jepang, dan negara-negara di Eropa mengalami pertumbuhan ekonomi yang negatif (diukur dari pertumbuhan total nilai barang dan jasa final yang dihasilkan di negara-negara tersebut dibandingkan periode sebelumnya). Di AS, misalnya, lebih dari 100 bank ditutup dan masih ada beberapa puluh bank yang berada dalam situasi tekanan finansial. Negara tetangga seperti Malaysia dan Singapura pun mengalami pertumbuhan yang negatif terutama pada paro pertama 2009. Indonesia sedikit beruntung karena bersama China dan India masih menghasilkan pertumbuhan ekonomi yang positif, meski pertumbuhannya lebih rendah dibanding periode sebelumnya. Kendati begitu, dampaknya masih terasa pahit, yaitu meningkatnya Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) dan kebangkrutan bisnis.

Tak ada seorang pun yang bisa tahu dengan pasti apa yang akan terjadi di tahun 2010. Namun demikian, apa pun yang akan terjadi di tahun 2010, kita bisa siap siaga menghadapinya dan meraih kesempatan yang telah Tuhan sediakan bagi kita. Tuhan telah menyediakan tanah perjanjian yang berlimpah susu dan madu kepada Israel. Untuk merealisasikannya, Bangsa Israel perlu bertindak dan menaklukkan tanah itu dengan pimpinan Tuhan. Tuhan kita Maha Kuasa dan Maha Pengasih. Ia telah menyediakan banyak berkat bagi kita di tahun 2010. Kita perlu bertindak untuk meraih berkat tersebut.

MENGGUNAKAN WISDOM

Apapun situasi yang kita hadapi, periode peralihan tahun merupakan momentum yang tepat untuk kilas balik melakukan evaluasi pencapaian kita selama tahun sebelumnya dan merencanakan pencapaian di tahun berikutnya. Dalam kerangka pikir W.I.S.D.O.M, inilah saatnya untuk melakukan M, yaitu “Meter, Monitor, dan Manajemen”. Artinya, kita perlu mengukur dan memantau pencapaian sampai sejauh ini dan dibandingkan dengan rencana semula.

Bila ternyata ada kesenjangan antara realisasi pencapaian dan rencana semula, kita perlu melihat kembali secara menyeluruh WISDOM-nya. Inilah saat yang tepat bagi kita untuk meminta hikmat dan petunjuk Tuhan sebelum kita melangkah lebih lanjut. Mungkin saja ada analisis awal (W = Watak, yaitu analisis situasi diri dan lingkungan) yang keliru, penetapan tujuan (I = Impian/ Ingin, yaitu tujuan jangka sangat panjang yang diuraikan menjadi target jangka pendek, menengah, dan panjang) yang kurang tepat, perencanaan strategi (S = Strategi atau Siasat, yaitu rencana perjalanan dari W ke I) yang perlu diperbaiki, pembelajaran (D = Didik, yaitu pengembangan diri untuk persiapan pelaksanaan strategi) yang belum terealisasi, pelaksanaan/ implementasi (O = Otak / Otot, yaitu kerja cerdas dan kerja keras) yang terhambat, atau bahkan indikator kinerja dan pemantauan antara (M = Meter, Monitor, Manajemen) yang tidak jalan.

Selama kita tetap tinggal di dalam Tuhan dan firman-Nya ada di dalam hati kita dan kita laksanakan, tahun 2010 akan menjadi tahun yang gemilang bagi kita. “...Barangsiapa tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia, ia berbuah banyak, sebab di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa...” (Yohanes 15:5b). Selamat Hari Natal 25 Desember 2009 dan Tahun Baru 1 Januari 2010. Tuhan berkati kita semua. Salam WISDOM!

Sumber: Majalah Bahana, Januari 2010

Teologi Politik

By: Benni E.Matindas

Perenungan sosial politik kita kali ini mengangkat tajuk sama dengan judul buku politik yang telah terhitung klasik karya Carl Schmitt (1888-1985), Political Theology. Teologi politik yang dimaksudnya bukan ajaran agama tertentu mengenai etika di bidang politik, ataupun wacana yang semacam itu. Ini bukan buku teologia, tapi sepenuhnya filsafat politik.

Konsep saya tentang negara banyak yang bertolak belakang dengan yang ditawarkan Schmitt, namun tujuannya ada benar. Khususnya niat dia untuk menyatakan pentingnya pendobrakan atas tatanan yang dijaga ketat oleh konstitusi, segala mahkamah, dan segenap aparat negara. Pembangkangan terhadap undang-undang yang berlaku. Pemutusan dari garis tertib administrasi yang rutin. Pendeknya: revolusi — yang oleh Schmitt dinilai sebagai moment illahiah, sehingga dalam buku yang terbit pertama kali dalam bahasa Jerman, Politische Theologie, tahun 1922, ini dipandang ranah teologis dalam politik.

Dengan memuliakan revolusi maka teorinya mensugestikan untuk tidak menilai sebagai seagungnya pemimpin bangsa atau sejatinya negarawan besar bila ia selama memerintah hanya menjaga kepatuhan pada UUD. Sehingga para penganut teori Schmitt tentu akan menilai kerdil pada Presiden SBY, sebab saat gonjang-ganjing perang hukum antara POLRI, Kejagung dan KPK bukan saja lamban mengambil keputusan tapi bahkan berulang mengatakan tak mau melanggar undang-undang.

Sekilas, teori Schmitt ini menggoda nalar. Tahun 1990-an, saat menyelesaikan bab tentang lembaga kepresidenan untuk buku Negara Sebenarnya, saya sampai harus berusaha menjelaskan betapa Kepala Pemerintahan bukan sekadar administrator atau eksekutor keputusan parlemen — meski memang Eksekutif dan Administrasi itulah fungsi utama pemerintahan dalam sistem negara modern demokratis. Saya berupaya menemukan rumusan yang harus lebih dari itu: Presiden adalah nahkoda bangsa di suatu zaman, yakni zaman yang dimasuki dan dijalani bangsanya berdasar panduannya yang ia paparkan sejak berkampanye sebagai politisi yang mempromosikan visinya. Itulah pula mengapa perlu sistem mekanistis yang memungkinkan visinya itu diperjuangkan dan dilegislasi dalam majelis rakyat, sebagai program pembangunan nasional, UU, maupun amandemen UUD.

Salomo hanya tampil melalui proses suksesi yang rutin menggantikan ayahnya yang mangkat, tapi terbukti menjadi maharaja dengan karya-karya luar biasa di mata dunia maupun Allah. Puluhan Presiden AS yang tampil maupun memerintah melalui proses yang sudah dipandang sebagai administrasi rutin (istilah “administrasi”

itu yang bahkan memang dipakai dalam tradisi politik kenegaraan AS, misalnya: Clinton Administration, Obama Adm.), namun terbukti masing-masingnya bisa menjulang sendiri sebagai pemimpin dunia.

Yang biasa dan rutinitas itu perlu, demi kepastian hukum dan tertib sosial yang memungkinkan warga hidup damai dan produktif, tapi yang luar biasa dan berani meletuskan revolusi pun perlu jika demi makin sempurnanya hukum dan warga makin cerdas, damai dan lebih produktif lagi.

Yang Luarbiasa tak punya hak etis maupun logis untuk meremehkan Yang Biasa, dan Yang Biasa jangan membelenggu kelahiran Yang Luarbiasa.

Tuhan memang Maha Pencipta, maka bolehlah Yang Luarbiasa, yang hanya mungkin lahir atas keputusan yang melampaui segala akal dan daya manusia biasa, yang luar biasa berani dalam mendobrak semua yang biasa, itu kita anggap sebagai moment teologis. Tetapi Tuhan pun mementingkan ketertiban, Ia setia menjaga ketetapan-ketetapan hukum-Nya, maka situasi tertib dan setia pun tak boleh untuk kita nyatakan bukan moment teologis.

Sumber: Majalah Bahana, Januari 2010

Bad News Jadi Good News

By: Oleh: Imanuel Kristo

Hampir setiap hari kita selalu mendapatkan berita, media massa memberikan kepada kita aneka berita. Dari berita-berita yang menghibur dan mendatangkan kegembiraan bagi yang mendengarnya, hingga berita yang menakutkan dan menghilangkan pengharapan bagi penerimanya. Dari berita-berita yang logis dan masuk akal sampai kepada berita-berita yang aneh dan menggelikan, dari berita yang sangat penting sampai kepada berita yang menggelikan dan sama sekali tidak penting.

Setiap kita juga selalu dapat menjadi pembuat dan penyampai berita bagi sesama kita. Kita yang selalu berkata ‘tidak pandai bicara dan tidak pandai menulis’ jika diminta secara formal dapat dengan mudah menjadi seorang yang sangat pandai merangkai kata dan kalimat. Kita yang selalu merasa tidak dapat meyakinkan orang lain, selalu dapat dengan mantap memengaruhi banyak orang dengan berita kita. Semua orang selalu dapat menjadi ‘reporter dadakan’ dan ‘penyampai berita instan’. Namun, yang menjadi perhatian saya bukan pada bagian itu, yang menjadi perhatian saya adalah berita apa yang disampaikan.

Penyampaiannya baik dan memesona, membawakannya dengan semangat dan menggebu – tetapi jika isi beritanya tidak berguna dan merusak….lalu untuk apa?

Saat ini acara infotaiment selalu dapat kita nikmati kapan saja dari semua saluran televisi di rumah kita maupun di lembar-lembar surat kabar dan tabloid yang beragam. Dan yang luar biasa para wartawan untuk segmen ini selalu memiliki berita dari para pesohor negeri ini. Mulai dari para artis sampai para petinggi negeri, mulai dari pemimpin umat sampai politisi, dari mereka yang benar-benar terkenal sampai pada mereka yang numpang terkenal. Kehidupan mereka seolah di eksplorasi sedemikian rupa tanpa memikirkan rasa dan hati. Mereka betul-betul menjadi obyek berita yang menjanjikan pada para penyaji dan penikmatnya. Bagi mereka semua berita yang buruk dan tidak terlalu baik dari obyek berita justru menjadi berita yang baik bagi penikmatnya.

Dengan konsep yang demikian maka tidaklah terlalu heran jika segala bentuk kekurangan, kelemahan, dan ketidakpantasan dari para artis dan orang-orang terkenal dikemas sedemikian rupa dengan olah kata dan kalimat menjadi sajian yang menghibur banyak penikmatnya. Di tangan mereka bad news menjadi good news. Hasilnya adalah perlakuan yang tidak manusiawi dan tidak menghargai sesama, yang penting beritanya laku dan banyak orang disenangkan, tanpa terlalu peduli bahwa ada dari sesama kita yang dikorbankan. Saat itulah pendidikan negative-aktif sedang diberlakukan: di mana setiap kita menjadi pribadi yang merendahkan yang lain. Jika hal ini tidak kita sikapi dengan arif maka negeri ini akan menjadi negeri yang penduduknya tidak terlalu peduli lagi dengan penghargaan dan perasaan sesamanya. Melalui kesempatan berbagi ini saya mengajak kita untuk memaknai secara berbeda: buatlah bad news menjadi good news secara positif aktif. Untuk itu tempatkanlah sesama kita benar-benar sebagai sesama. Pandanglah mereka bukan sebagai bagian terpisah dari diri kita, tetapi sebagai bagian yang indah dari kedirian kita.

Buatlah sesama kita menjadi pribadi-pribadi yang berharga di mata kita dan di mata sebanyak mungkin orang. Berita yang tidak terlalu baik dan tidak terlalu bermakna dari sesama menjadi kesempatan bagi kita untuk berbuat sesuatu bagi mereka. Berbuat sesuatu sehingga bad news menjadi good news bagi mereka dan bagi banyak orang. Warnailah dunia kita dengan warna kasih dan perdamaian melebihi kecenderungan yang lain. Buatlah warna itu menjadi warna dominan dalam kebersamaan kita dengan orang lain. Buatlah berita dan cerita yang indah, lalu gemakanlah menjadi senandung cinta yang menyapa setiap insan yang gundah–dan nikmatilah kebahagiaannya.

Sumber: Majalah Bahana, Januari 2010

Kekuatan Belas Kasihan

By: DR. Jakoep Ezra, CBA, CPC

Belas kasihan menggerakkan suatu kekuatan tindakan
Belas kasihan merupakan realita kehidupan yang tidak bisa diabaikan. Ia merupakan sikap yang diteladani oleh Kristus. Diawali dengan rasa belas kasihan, dilanjutkan dengan suatu tindakan nyata dan mukjizat. Belas kasihan Yesus sudah membawa dampak dan pemulihan yang luar biasa. Tapi mengapa sikap belas kasihan kita semakin gersang dan luntur?

Belas Kasihan
Ada sebuah cerita yang sangat terkenal tentang belas kasihan. Mengenai orang Samaria yang menolong seorang Ibrani yang telah dirampok dan sedang terluka. Dalam kisah ini, Yesus menggambarkan bahwa belas kasihan tidak dibatasi oleh perbedaan ras, tradisi atau status sosial. Belas kasihan bebas dari rasa pamrih dan kepentingan pribadi.

Mungkin kita teringat lagu jadul berjudul Kasih Ibu. Sebagian liriknya berkata begini, hanya memberi tak harap kembali, bagai sang surya menyinari dunia. Sinar mentari terus memancar dan menopang kehidupan di dunia ini. Setidaknya demikian seharusnya belas kasihan tetap mewarnai kesaksian dan keteladanan hidup kita.

Membuka Pintu Surga
Belas kasihan membuka pintu surga. Tuhan menunjukkan kemurahan-Nya tidak hanya kepada kita, tetapi juga melalui kita. Jika kita melakukan sesuatu dengan didasari belas kasihan, maka ada kuasa yang bekerja atas kita.

Belas kasihan bukan sekadar rasa prihatin atau bersikap simpati. Belas kasihan juga tidak pamrih dan memperhitungkan untung ruginya. Belas kasihan itu murni dan didasari oleh kasih yang tulus. Yang harus diperhatikan adalah, apakah upaya dan jerih lelah kita itu sudah tepat sasaran, tepat waktu dan tepat cara?

• Mengembangkan Sikap yang Benar
Bunda Teresa selama hidupnya dikenal sebagai ibu bagi kaum miskin di India. Ia memenuhi apa yang menjadi panggilan pelayanannya. Ia membangun komunitas biarawati yang melayani kaum papa di India. Bunda Teresa memberi ilham bagi banyak orang untuk melakukan kebajikan. Kekuatan apa yang bekerja dalam diri bunda Teresa? Belas kasihan.

Sebenarnya karakter belas kasihan seperti sumber mata air yang tak bisa habis. Namun bisa digerogoti oleh sikap pamrih atau sebaliknya seringkali dimanfaatkan secara manipulatif. Itu yang membuat kita akhirnya enggan mengembangkan sikap berbelas kasih kepada sesama. Tidak heran jika Alkitab berkata, bahwa di akhir zaman ini kasih semakin tawar.

Belas kasihan lahir dari hati yang meresponi kebutuhan mendalam dari orang lain. Menunjukkan kemurahan dan memberi pertolongan untuk menghindarkan seseorang dari kesulitan yang mendesak, penderitaan atau bencana. Bagaimana mengembangkan hati yang berbelas kasihan?

• Mampu melihat dan membedakan kebutuhan mendalam dan mendesak
Belas kasihan lahir dari hati nurani yang tersentuh oleh kebutuhan dan penderitaan orang lain. Belas kasihan merupakan respons atas permintaan tolong dan permohonan yang sungguh-sungguh bukan yang bersifat manipulatif. Karena kasih itu tidak sekadar berkurban atau menolong tetapi juga membangun dan mendidik.

• Fokus pada kasih karunia Tuhan yang diberikan kepada kita
Belas kasihan membuka pintu surga. Kita merupakan perwakilan Tuhan di dunia untuk menyatakan kemurahan dan karuniaNya. Belas kasihan selalu bekerja melalui apa yang ada pada kita, bukan yang tidak kita punyai. Kebajikan yang ditaburkan pasti akan berbuah kebajikan. Distribusi yang lancar pasti dipercayakan yang lebih besar lagi.

• Beri ruang untuk memiliki belas kasihan kepada orang lain
Kesibukan dan masalah pribadi seringkali begitu memenuhi hati dan pikiran kita, sehingga tidak ada kesempatan untuk memikirkan orang lain. Akhirnya kita menjadi egois dan hidup hanya untuk diri sendiri.

• Carilah kesempatan untuk berbuat kebajikan
Melakukan kebajikan merupakan amanat yang harus dilaksanakan. Keselamatan memang merupakan anugerah yang diberikan secara cuma-cuma, tapi perbuatan baik adalah amal ibadah yang kelak mendapat pahala.

Sumber: Majalah Bahana, Januari 2010

Runtuhkan Risiko: Cara Meningkatkan Penjualan

By: James Gwee T.H., MBA

Mengapa kelihatannya sangat susah bagi seorang sales menjual sesuatu kepada orang lain? Karena banyak sales dan manager pemasaran lupa (atau tidak sadar!) satu prinsip dasar dalam transaksi bisnis. Setelah Anda memahami prinsip dasar ini dan melakukan tindakan yang perlu atas masalah ini, penjualan Anda dengan mudah dapat berlipat ganda.

Risiko Penjual dan Pembeli
Mari kita sadari terlebih dahulu, siapa yang diminta untuk menerima risiko lebih besar dalam setiap transaksi jual-beli? Si penjual atau si pembeli? Pikirkan hal ini sejenak. Siapa yang akan menanggung risiko lebih besar? Si penjual atau si pembeli?

Risiko Bagi Si Penjual

Jika si pembeli membayar secara kredit, ada kemungkinan ia akan membatalkan kreditnya. Lebih sulit/mustahil/mahal lagi untuk melacak si pembeli agar membayar. Namun, jika si pembeli membayar secara penuh, si penjual tidak menanggung risiko.
Jika si penjual menyediakan (warranty) garansi, ada kemungkinan si pembeli menyalahgunakan penggunaan produk, lalu meminta jaminan garansi atau meminta produk yang baru, dll.

Risiko Bagi Si Pembeli

Jika si pembeli telah membayar penuh dan produk/jasa yang diperoleh tidak sesuai dengan janji/perkataan si penjual atau brosur, ia akan mustahil mendapatkan pembayaran ganti rugi. Bahkan apabila bisa memperoleh pembayaran ganti rugi, prosesnya berliku-liku dan tidak mudah.
Perusahaan menyediakan garansi, tetapi di dalam garansi tersebut banyak ketentuan-ketentuan tambahan yang mungkin tidak disampaikan oleh si penjual kepada para pembeli. Hal ini mempersulit si pembeli untuk menuntut garansi.
Perusahaan menyediakan garansi, tetapi di dalam garansi tersebut
Para pembeli membeli produk karena diyakinkan/mendapat jaminan oleh si penjual. Namun, si penjual mungkin saja berhenti kerja dan jaminan si penjual tadi tidak dapat dipenuhi oleh penjual baru yang menggantikannya.
Para pembeli sebenarnya masih ragu apakah produk/jasa yang telah ia beli sesuai dengan kebutuhannya. Jika setelah membeli ternyata tidak sesuai kebutuhan, situasi ini akan sulit bahkan mustahil untuk mengembalikan produk/jasa tersebut dan meminta pembayaran ganti rugi.

Jadi kesimpulannya, dalam setiap transaksi jual-beli, si pembelilah yang akan menanggung semua risiko. Tidak heran apabila sangat sulit untuk membujuk para pembeli untuk membeli!

Tembok Keragu-raguan
Gambar 1. Tembok keragu-raguan berdiri sangat tinggi bagi para pembeli untuk bisa dilompati. Dalam situasi seperti ini, hampir mustahil para pembeli akan membeli dari Anda.

Bayangkan sejenak para pembeli ingin membeli dari Anda, tetapi di hadapannya terhalang tembok keragu-raguan. Tembok ini terbuat dari segala keragu-raguan/risiko yang dirasakan oleh para pembeli saat akan membeli sebuah produk. Tugas Anda sebagai sales adalah membantu para pembeli merendahkan tembok ini. Semakin rendah temboknya, semakin mudah bagi para pembeli untuk melompatinya (yang berarti akan membeli dari Anda). Semakin tinggi tembok itu, semakin sulit bagi para pembeli membeli dari Anda.

Jadi, bagaimana kita dapat merendahkan tembok itu?

1. Kenali semua risiko dan keragu-raguan di dalam pikiran si pembeli.

2. Tunjukkan bukti kuat untuk menghapus keragu-raguan tersebut.

3. Gunakan kesaksian-kesaksian para pembeli lain yang telah membeli untuk menghapus keragu-raguan tersebut.

4. Gunakan risk reversal (pemutar balik risiko) untuk meniadakan semua kekhawatiran.

Risk reversal adalah upaya sederhana si penjual untuk membuang semua risiko dari para pembeli dan si penjual yang menanggung semua risiko. Beberapa contoh risk reversal adalah :

* Jaminan Uang Kembali - tanpa syarat

* Ambil dulu, bayar kemudian

* Beli dulu dan dapatkan hadiah gratis. Jika Anda kelak mengembalikan produk tersebut kepada kami, kita akan membayar Anda secara penuh, dan Anda tidak perlu mengembalikan hadiah gratisnya.


Gambar 2. Tembok keragu-raguan cukup rendah untuk bisa dilompati oleh para pembeli. Situasi ini sangat memungkinkan para pembeli membeli dari Anda.

Sumber: Majalah Bahana, Januari 2010

EMPATI

By: Dr. Xavier Quentin Pranata, MACE

Sydney. Spring. Sore. Saat itu hujan turun rintik-rintik. Bersama istri dan tiga orang sahabat, saya berlari-lari kecil mengejar feri yang akan membawa kami dari Circular Quay ke Manly. Di tengah jalan yang dingin dan berangin itulah saya melihat seorang pria aborigin bertelanjang dada menari-nari untuk menarik perhatian orang di seputar Sydney Cove. Seorang rekannya memainkan didgeridoo (semacam alat tiup besar) sambil duduk dan mengenakan mantel tebal. Saya gamit lengan Susan, istri saya, sambil berbisik, “Lihat, apa dia tidak kedinginan?” Sambil menoleh, istri saya menjawab, “Sudah terbiasa ‘kali!”

Terus terang, jawaban itu kurang memuaskan saya. Namun, saya sendiri tidak bisa memberi jawaban yang pasti. Yang jelas, dia rela melakukan apa saja demi sesuap nasi. Meskipun saat itu Sydney sudah memasuki spring, udara masih dingin menggigit, apalagi di tepi laut. Saya saja tidak pernah melepaskan jaket. Meskipun demikian, jika direnungkan lebih dalam, kata-kata isteri saya ada benarnya. Pengamen jalanan itu bisa mengenakan celana dalam saja di cuaca yang begitu dingin karena sudah biasa melakukannya. Di sisi lain, kita pun bisa terbiasa menghadapi kesusahan orang lain dengan hati yang membeku. Nurani kita mati.

Empati kita secara perlahan tapi pasti ikut terbang bersama angin pencobaan dan badai penderitaan atau—yang sebaliknya—sudah tenggelam oleh keinginan mata, keinginan daging, dan keangkuhan hidup. Karena bencana alam semakin lama semakin sering menimpa bumi kita yang semakin renta, kita jadi kebal saat mendengar kata ‘sumbangan’. Bisa juga karena kita dibuai oleh kenikmatan hidup sehingga susah meninggalkan comfort zone kita. Nurani kita begitu tebal sehingga sulit tersentuh dengan penderitaan sesama. Kita bahkan lebih sering ‘tertawa di atas penderitaan orang lain’.

Saya pun merasa tertempelak saat merenungkan hal itu. Hal ini mengingatkan saya saat makan siang bersama dua pasang suami-istri asal Tiongkok. Saat itu saya baru saja mengunjungi Cockington Green, yaitu taman miniatur bangunan bersejarah di seluruh dunia yang ada di Canberra. Sebelum menuju Parlemen House, kami singgah makan siang di sebuah chinesse restaurant. Saya, istri, Stephen, dan Sienny duduk bersama pasangan suami-istri paruh baya bersama anak dan menantu mereka. Di tengah-tengah makan, tiba-tiba sang istri bersin. Saya melihat dengan mata kepala sendiri, cairan dari mulut dan hidungnya menyembur keluar dengan deras serta menghujani makanan di atas meja. Saya dan istri langsung berhenti makan. Saya melihat wajah keempat orang itu—terutama sang ibu—pucat. Ada rasa bersalah di dalam diri mereka.

Saat saya renungkan kembali peristiwa itu, saya sedih sekaligus menyesal. Mengapa? Karena secara spontan saya tersenyum. Bukankah itu jahat? Jika saya yang mengalami hal itu, dan ada orang yang tersenyum ke arah saya, tidakkah saya merasa sangat bersalah? Atau malah tersinggung dan marah?

Itulah sebabnya saya setuju dengan apa yang pengkhotbah katakan bahwa pergi ke rumah duka lebih baik daripada ke rumah pesta. Mengapa? Di rumah dukalah kita bisa belajar berempati karena kita pun kelak akan masuk ke tempat perhentian kekal. Saya pun kagum dengan definisi Alkitab tentang empati: “Bersukacitalah dengan orang yang bersukacita, dan menangislah dengan orang yang menangis!” (Roma 12:15). Saat kita merayakan Natal pada bulan ini, tidakkah kita ingat bahwa kelahiran Yesus juga membawa tangisan ibu-ibu yang kehilangan anak kecilnya? Mari merayakan Natal dengan hati yang berempati dan berbagi.

Sumber: Majalah Bahana, Desember 2009

Semua Kau Tambahkan

By: Jonathan Prawira

“Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu.” (Mat. 6:33)

Ada yang merasa hal-hal rohani menghalangi mereka meraih hal-hal terbaik di dunia. Sebaliknya, ada yang merasa dunia ini menghalangi mereka dekat dengan TUHAN. Alkisah, seorang pertapa merasa ia-lah yang paling dekat dengan TUHAN karena yang dilakukannya sepanjang hari hanyalah bermeditasi dan merenung mencari kebenaran sejati. Suatu ketika TUHAN berkata, “Ketahuilah, ada seorang anak yang lebih dekat pada-Ku daripada engkau.” Pertapa itu bertanya, “TUHAN, siapa dia dan apa yang dilakukannya bagi-Mu sehingga ia bisa dekat pada-Mu?” Lalu TUHAN bersabda, “Pergilah, dan perhatikan bagaimana anak itu dekat pada-Ku.” Maka sesuai petunjuk TUHAN, pergilah pertapa itu untuk memperhatikan apa yang dilakukan anak itu.

Namun yang ia dapati mengherankan hatinya. Pagi-pagi buta, seorang anak mengeluarkan dombanya dari kandang sambil bernyanyi, “Hatiku siap membangunkan fajar.” Kemudian, siang hari setelah menghalau binatang-binatang buas yang hendak menerkam dombanya, ia memainkan kecapinya menghibur domba-dombanya, “TUHAN adalah gembalaku, takkan kekurangan aku.” Sore hari, anak itu kembali membawa masuk dombanya ke kandang sambil memuji, “Dari terbit matahari sampai pada masuknya, biarlah nama TUHAN yang kupuji.” Demikian seterusnya sampai anak itu tidur.

Lalu TUHAN datang dan bertanya kepada pertapa, “Apa yang engkau lihat?” Pertapa itu menjawab, “Ah, TUHAN, aku hanya melihat seorang anak biasa-biasa saja yang memuji engkau tujuh kali di tengah-tengah kesibukannya.” Lalu TUHAN bertanya, “Berapa kali engkau memuji-Ku hari ini?” Pertapa itu menjawab, “Tidak sama sekali TUHAN. Aku sibuk memperhatikan anak itu.” TUHAN pun menjelaskan, “Nah, di tengah kesibukannya, anak itu ingat kepada-Ku, sedangkan baru satu tugas yang Kuberikan, engkau sudah melupakan-Ku. Tidak heran bukan, anak itu lebih dekat kepada-Ku daripada engkau?”

‘Ku mau mencari lebih dahulu k’rajaan-Mu dan keb’naran-Mu.
Mencari kerajaan dan kebenaran TUHAN tidak berarti kita mesti meninggalkan dunia. TUHAN tidak pernah menyuruh kita meninggalkan dunia ataupun bersahabat dengan dunia. Tetapi sejak manusia pertama, kita dipanggil untuk mengalahkan dan mengelola dunia. Mencari kerajaan dan kebenaran TUHAN artinya kita membawanya ke kehidupan kita sehari-hari.

‘Ku tak kuatir, ‘ku ada di tangan TUHAN yang menyediakan.
TUHAN menyuruh kita tidak khawatir akan hari esok, bukannya tidak merencanakan hari esok. Khawatir adalah sinyal hati yang menyala bila dua hal terjadi: kita tidak mempersiapkan diri dengan baik atau kita tidak menyerahkan perkara itu kepada TUHAN. Cara mematikan alarm khawatir adalah melakukan kedua hal tersebut secara seimbang. Tidak menyerah pada keadaan, tetapi berserah pada hasil yang TUHAN tentukan.

Semua Kau tambahkan, dimana ‘ku kekurangan, Bapa tahu yang kuperlu sebelum kupinta.
Jika kita seorang bos sejati, maka apapun yang dibutuhkan anak-buah kita untuk membawa keuntungan bagi perusahaan pasti kita dukung. Apalagi TUHAN, Pemimpin yang baik, Ia pasti men-support setiap usaha kita untuk memuliakan nama-Nya.

Asalkan kulakukan segala yang Kau inginkan, Kau memberi upah bagi ketaatanku (dari album UNSTOPPABLE)
Saksi-saksi iman di marketplace seperti Abraham, Ishak, Yakub, Ayub, Ester, Ruth, Maria dan sebagainya, menginspirasi saya. Success is our reward. Kalau kita lebih fokus pada bagaimana mengaplikasikan firman TUHAN dalam menyelesaikan problem daripada pada besarnya problem, khawatir, dan takut, maka kita akan meraih janji TUHAN. Apapun yang kurang, semua akan TUHAN tambahkan dalam hidup kita.

Kalau di tengah kesibukannya, orang Majus yang sukses dan terpandang sempat mencari TUHAN, pastilah mereka sudah mengatur waktu dan pekerjaan dengan baik. Kita juga bisa menjadi orang-orang Majus tersebut. Salam inspirasi dan selamat mengalami kerajaan TUHAN turun di tempat Anda seperti di surga.
Worship partner Anda, Jonathan Prawira

Sumber: Majalah Bahana, Desember 2009

Dietrich Bonhoeffer

By: Andar Ismail, M.Th, Ph.D.

Pada tanggal 9 April 1945 subuh, beberapa orang terpidana hukuman mati berjalan menuju tiang gantungan di penjara Flossenburg. Seorang di antara terpidana itu berusia setengah baya, berkaca mata, berdahi botak dan tampak sangat terpelajar. Sebelum menaiki tangga tiang gantungan ia berlutut dan berdoa. Beberapa menit kemudian lehernya dikalungi tali. Lalu tubuhnya terkulai lemas. Dokter yang mengamati orang itu kemudian berkata, “Saya hampir lima puluh tahun berdinas, tetapi baru sekarang aku melihat orang yang menghadapi maut dengan sikap begitu pasrah kepada Tuhan.” Terpidana yang baru meninggal di tiang gantungan itu adalah Dietrich Bonhoeffer, pakar teologi Jerman terkemuka yang buku-bukunya sampai sekarang dibaca oleh mahasiswa teologi di seluruh dunia.

Dietrich Bonhoeffer lahir pada tahun 1906 dalam keluarga bangsawan Jerman. Ayahnya seorang psikiater terpandang di Universitas Berlin. Ibunya adalah anak pendeta istana Kaisar Willem.

Sejak di sekolah menengah umum, Bonhoeffer sudah belajar bahasa Yunani. Ia membaca Alkitab sehari-hari langsung dari bahasa Yunani. Kemudian ia masuk seminari teologi. Dengan kecepatan di luar kelaziman, ia menyelesaikan studi sampai di jenjang S-3. Pada usia 22 tahun ia menggembalakan jemaat. Ia juga mengarang beberapa buku untuk menguatkan iman umatnya menghadapi keadaan yang sedang menimpa Jerman.

Ketika itu Jerman sedang terpuruk. Ekonominya hancur. Nilai mata uang dan sahamnya jatuh. Pabrik-pabrik tutup. Buruh menganggur. Sandang pangan habis. Jerman kehilangan rasa yakin dirinya. Di tengah situasi itu muncul partai bernama National Sozialist (disingkat Nazi). Partai Nazi melontarkan semboyan cinta bangsa. Lalu ditimbulkan rasa benci terhadap bangsa lain, termasuk terhadap jutaan orang Yahudi yang bermukim di Jerman. Ternyata semangat itu mendapat sambutan hangat. Timbullah suasana patriotik yang sempit dan Partai Nazi semakin mendapat banyak suara di pemilihan umum. Lalu pemimpin partai itu, Adolf Hitler, terpilih menjadi perdana menteri dan kemudian menjadi presiden dengan kekuasaan mutlak. Banyak pendeta tertarik gagasan ini apalagi Hitler menjanjikan bantuan kepada gereja.

Terhadap situasi ini Bonhoeffer berteriak keras. Ia meminta gereja agar tetap menjadi gereja dan tidak membiarkan diri menjadi alat pemerintah.

Namun seruan Bonhoeffer tidak didengarkan oleh para pemimpin gereja. Akibatnya gereja terpecah dua. Sebagian besar mendukung Hitler dan disebut Gereja Negara sedangkan sebagian kecil menentang Hitler dan disebut Gereja yang Mengaku. Salah satu bentuk kesaksian Gereja yang Mengaku adalah memberi perlindungan kepada orang Yahudi yang diburu pengikut Nazi. Gereja ini juga mendirikan seminari teologi sendiri di Finkenwalde. Pada masa ini Bonhoeffer menulis bukunya yang terkenal yaitu The Cost of Discipleship.

Dalam buku itu Bonhoeffer menulis bahwa Kristus memberi anugerah kepada kita; bukan anugerah yang murah melainkan anugerah yang mahal. Anugerah yang murah adalah anugerah tanpa harus menderita dalam mengikut Yesus. Sebaliknya, anugerah yang mahal menuntut pengorbanan, yaitu hidup kita sendiri, dalam mengikut Yesus.

Sementara itu, propaganda Nazi semakin merasuk masyarakat. Kebencian terhadap orang Yahudi terus ditiupkan. Puncaknya terjadi tanggal 10 November 1938. Pada hari itu secara serentak di tiap kota pengikut Nazi merusak, menjarah dan membakar sinagoge, rumah dan toko orang Yahudi. Polisi hanya menonton dari jauh. Pada malam itu Bonhoeffer terpaku di depan Mazmur 74:8 yang berbunyi: “Mereka berkata dalam hatinya: ‘Baiklah kita menindas (Ibr.: yonach = menghancurkan , merampas, menjarah) mereka semuanya!’ Mereka membakar segala tempat pertemuan Allah di negeri.”

Karena seminari Finkelwade ditutup polisi, Bonhoeffer bekerja di Dinas Penerangan Militer. Di kantor ini ada sejumlah perwira militer yang sudah muak dengan kediktatoran Hitler. Sudah jutaan orang dibunuh atas “wejangan” Hitler. Untuk mencegah jatuhnya lebih banyak korban, Bonhoeffer dan beberapa orang lain menyusun rencana pembunuhan Hitler. Bonhoeffer menyadari bahwa membunuh adalah keliru, tetapi hati nuraninya memutuskan bahwa membunuh seorang pembunuh supaya pembunuh itu berhenti membunuh jutaan orang lainnya adalah ultima ratio atau pilihan terakhir yang terpaksa.

Sumber: Majalah Bahana, Desember 2009

Menyambut dan Meneruskan Sapaan Ilahi

By: Pdt. Wahyu Pramudya, M.Th

Bacaan Alkitab: Lukas 2:8-20
Natal adalah peringatan rutin tiap tahun, yang berpotensi menjadi rutinitas tanpa makna. Untuk menjaga agar peringatan dan perayaan ini senantiasa berbicara kepada hidup kita, maka kita harus kembali menghayati makna Natal. Berita tentang makna Natal kiranya menjadi pusat dalam setiap ibadah Natal, lebih daripada segala pernak-pernik acara dan aksesori.

Natal pada hakekatnya adalah sapaan Allah kepada manusia. Sapaan Allah yang menunjukkan betapa besar kasih-Nya kepada dunia ini, sehingga ia memberikan anak-Nya yang tunggal (Yoh 3: 16). Allah tidak menyapa dari kejauhan, tetapi firman itu menjadi daging dan berdiam di tengah-tengah manusia.

Apa arti dan relevansi sapaan Allah itu bagi kehidupan manusia ?

1. Melalui natal, Allah menunjukan perhatian-Nya kepada manusia yang tersisihkan (ay.8-14).
Pada malam Natal yang pertama, berita Natal pertama kali datang kepada para gembala. Lebih luar biasa lagi, berita itu disampaikan langsung oleh para malaikat. Gembala bukanlah pekerjaan yang terhormat pada waktu itu. Pekerjaan sebagai gembala menyebabkan mereka harus hidup mengembara di padang, terpisah secara sosial dengan orang lain. Bagi pemuka agama pun, gembala dipandang sebagai orang yang mengabaikan banyak tuntutan agama, karena tuntutan pekerjaan mereka. Jadi, gembala adalah kelompok manusia yang terpinggirkan dan tersisihkan dari sesamanya. Namun, justru kelompok inilah yang pertama-tama mendapatkan perhatian Allah. Inilah Natal: “sapaan bagi yang tersisihkan”.

Apakah Anda pernah mengalami rasanya ditolak dan disisihkan karena kelemahan dan keterbatasan Anda? Manusia bisa menolak dan menyisihkan Anda, tetapi inilah kabar sukacita Natal: Allah menyapa semua manusia, termasuk yang selama ini disisihkan dan ditolak.

Jika Allah adalah pribadi yang menyapa mereka yang disisihkan, maka apakah pelayanan kita juga menyapa mereka yang tersisihkan? Mereka yang ditolak orang lain dan bahkan dibuang karena kondisi fisik atau latar belakang sosial mereka yang buruk. Apakah kita menyapa mereka, sebagaimana Allah menyapa para gembala?

2. Melalui natal, Allah menaburkan benih kebahagiaan yang sejati di dalam hidup manusia (ay.20).
Setelah para gembala menemukan Yesus yang telah dilahirkan, ada sesuatu yang berubah di dalam diri mereka. Ayat 20 menegaskan bahwa para gembala tersebut memuji dan memuliakan Allah. Inilah perubahan yang terjadi ketika para gembala berjumpa dengan Yesus. Ada sukacita dan kebahagiaan yang bersemi di hati, sebagai respons terhadap kepedulian Allah bagi hidup mereka. Situasi hidup mereka tidak berubah. Kesulitan dan pergumulan tetap ada, tetapi kini mereka telah berjumpa dengan Sang Juruselamat. Inilah kebahagiaan hidup yang sejati : bukan karena perubahan situasi, tetapi karena Kristus di hati.

Manusia senantiasa merindukan kebahagiaan. Sebagian mencarinya melalui hiburan, dan yang lain mencoba menemukannya melalui kenikmatan. Sayangnya tidak ada hiburan atau kenikmatan yang tidak berakhir. Bahkan sebagian hiburan dan kenikmatan itu justru menimbulkan kehancuran hidup manusia.

Jika manusia senantiasa merindukan kebahagiaan, apakah di Natal ini kita bersedia berbagi benih kebahagiaan sejati itu kepada orang lain? Kebahagian karena memiliki Kristus di hati.

Pada Natal ini, mari kita sambut kembali sapaan Ilahi itu. Mari kita teruskan sapaan itu kepada setiap manusia. Selamat merayakan Natal.

Sumber: Majalah Bahana, Desember 2009

Tempat yang Aman

By: Pdt. Vetri Kumaseh, S.Th

Indonesia dinyatakan sebagai daerah rawan bencana. Kondisi ini tampak jelas melalui berbagai fenomena alam yang melanda negeri kita. Gempa bumi, banjir bandang, hingga aksi teror menjadi langganan tetap. Kondisi ini makin memperjelas bahwa tidak ada satu tempat pun yang aman untuk ditinggali. Bumi sudah tua, makin tak layak huni.

Akan tetapi, Alkitab menjanjikan masih ada tempat yang aman bagi anak-anak Tuhan. Tempat itu menentramkan hati. Tempat yang meneduhkan jiwa yang gundah gulana. Bagaimanakah orang percaya meraih tempat yang aman tersebut?

Hiduplah dalam Hadirat Allah
Sesungguhnya, tempat yang aman bagi orang beriman adalah dalam hadirat Allah. Pemazmur mengalami hal itu. “Orang yang duduk dalam lindungan Yang Mahatinggi dan bermalam dalam naungan Yang Mahakuasa akan berkata kepada TUHAN: “Tempat perlindunganku dan kubu pertahananku, Allahku, yang kupercayai.” (Mzm. 91:1-2).

Segala sesuatu keluar dari keintiman. Jika seseorang intim dengan Tuhan ia pasti merindukan hadirat Tuhan. Sebaliknya, bila seseorang tidak intim dengan Tuhan dua kemungkinan yang akan terjadi. Kemungkinan pertama adalah merasa lebih pintar dari Tuhan. Akibat sikap seperti ini adalah mengajari Tuhan. Lebih parah lagi menuntun Tuhan untuk melakukan yang diingini manusia. Kemungkinan kedua, bila seseorang tidak dekat dengan Tuhan, ia akan lebih galak dari Tuhan.

Keintiman dengan Tuhan adalah hal yang sangat penting dalam hidup orang beriman. Kenyataan hidup sehari-hari menunjukkan ada pula orang Kristen yang sering berlaku cengeng. Maunya dimengerti terus, namun tidak pernah mau mengerti Tuhan. Maunya dipahami terus, sebaliknya tidak pernah bersedia memahami Tuhan. Maaf kata, dapat dikatakan sebagai orang Kristen yang masih bersifat kanak-kanak. Pertanyaannya mengapa terjadi demikian? Salah satu alasan mendasar adalah kurangnya keintiman dengan Tuhan. Kurang sungguh-sungguh hidup di hadirat Allah. Pernyataan ini tidak bermaksud menghakimi. Namun, firman Tuhanlah yang mengatakan hal itu.

Pemazmur terus terang menegaskan dengan kepak-Nya, Ia akan menudungi orang-orang yang berlindung pada-Nya. Kesetiaan-Nya adalah perisai dan pagar tembok (ay. 4).

Percaya Saja
Percaya kepada Tuhan adalah modal untuk nyaman dalam menapaki hidup ini. Fakta menunjukkan hidup ini makin sukar. Kesulitan dalam segala lini melanda dunia. Masalah krisis ekonomi global, keamanan, bahkan pemanasan global menjadi ancaman serius. Sebagai orang beriman, kita tidak perlu kaget dengan semua itu. Alkitab telah memprediksinya jauh-jauh hari.

Dalam perjanjian Baru, Yesus mengubah pemahaman Maria dan Marta. Yesus sengaja menunda datang mengunjungi Maria dan Marta. Kedua wanita itu telah berusaha mengirimkan kabar kepada Yesus, namun Yesus seakan-akan tidak menghiraukan. Mengapa demikian? Pasti Yesus punya tujuan. Yesus melatih agar mereka tetap percaya walaupun secara fisik Yesus tidak bersama mereka. Yesus berkata, “Bukankah sudah Kukatakan kepadamu: Jikalau engkau percaya engkau akan melihat kemuliaan Allah?” (Yoh. 11:40).

Iman Kristen memang unik. Salah satu keunikannya adalah memercayai sesuatu yang tidak kasat mata. Secara akal, orang memercayai sesuatu berdasarkan bukti-bukti yang ada. Maka segala hal yang tidak dapat dibuktikan sukar dipercayai. Namun iman Kristen prinsipnya berbeda. Percayai dahulu baru lihat bukti. Bukan sebaliknya!

Dalam kesulitan hidup yang terparah sekalipun, Tuhan setia menopang mereka yang mengandalkan Dia. Pemazmur mengatakan, “Sebab malaikat-malaikat-Nya akan diperintahkan-Nya kepadamu untuk menjaga engkau di segala jalanmu (Mzm. 91:11). Secara pribadi Allah memerintahkan malaikat untuk menjaga umat pilihan-Nya. Berarti, di luar Tuhan tidak ada tempat yang aman.

*) Penulis adalah Gembala Sidang Gereja Bethel Indonesia (GBI) Semanggi Jakarta. Diadaptasi oleh Manati I. Zega dari khotbah di C.V. ANDI Offset Yogyakarta.

Sumber: Majalah Bahana, Desember 2009

Cinta Membuat Cantik

By: Oleh: Imanuel Kristo

Siang itu saya bersama istri berencana untuk makan siang di sebuah mal. Kami berjalan santai menikmati suasana mal yang nyaman di tengah teriknya matahari di luar. Pandangan kami terus berkeliling mengamati berbagai tampilan yang dapat kami jumpai. Suasana di dalam sama sekali tidak menyiratkan krisis dan keprihatinan di tengah-tengah beragam bencana yang menghantam sebagian dari negeri ini. Hilir mudik orang di dalam mal menjadi kenikmatan sendiri untuk diperhatikan, dari sanalah saya semakin menyadari bahwa setiap pribadi itu unik. Tidak pernah ada pribadi yang sama, setiap pribadi adalah khas: tidak pernah ada ’the second Imanuel Kristo’ ataupun ’the second...’ yang lainnya.

Di tengah asyiknya menikmati ’pemandangan’ di dalam mal, tiba-tiba istri saya minta izin untuk mencari kamar kecil. Karena itulah saya harus menghentikan langkah dan mencari tempat duduk sekadar menunggu sambil mengistirahatkan kaki. Saat saya memperhatikan orang yang lalu-lalang, tiba-tiba mata saya tertuju pada seorang gadis yang tampak begitu cantik dan anggun. Rambutnya tergerai sebatas pundak dengan t’shirt warna putih yang pas di badannya serta celana jean ketat yang memperlihatkan jenjang kedua kakinya. Dia berjalan ringan dengan sepatu casualnya, wajahnya tampak segar menyiratkan pesona gadis muda yang ceria.

Mata saya mengikuti geraknya dengan penuh kerelaan: sungguh mahluk Tuhan yang cantik untuk dipandang. Namun sebelum saya semakin larut dalam keterpesonaan itu, perhatian saya segera berpindah ke arah istri saya yang berjalan menghampiri saya. Langkahnya berbeda dengan gadis muda tadi, tampilannya juga tidak sama. Tetapi ia adalah istri saya, tetap cantik di mata saya karena saya mencintainya dan ia pun mencintai saya. Ya...cintalah yang membuatnya cantik, cinta adalah kekuatan yang mampu mengubahkan sesuatu yang tidak mungkin menjadi mungkin. Karena cinta selalu melampaui batas-batas kemanusiaan kita, cinta juga melampaui semua yang tampak rasional.

Sebuah puisi sederhana saya sitir dari salah satu buku yang saya baca: “bukan titik yang menyebabkan tinta; tetapi tintalah yang menyebabkan titik. Bukan cantik yang menyebabkan cinta tetapi cintalah yang menyebabkan cantik”

Jika mata kita dipenuhi oleh cinta maka mata kita akan mampu menikmati kecantikan dari orang yang kita cintai. Jika hati kita dipenuhi cinta maka diri kita akan dipuaskan oleh banyak hal yang cantik dan indah. Oleh karena itu jika kita tidak lagi dapat memandang kecantikan orang-orang yang Dia anugerahkan bersama dengan kita maka pertama-tama periksalah cinta yang ada di dalam hati dan diri kita. Jika mata dan hati kita dipenuhi cinta maka yang kita dapati adalah semua yang indah, dan semua yang baik dari mereka yang di dalamnya cinta itu kita dedikasikan.

Jika mata dan hati kita dipenuhi cinta terhadap sesama, maka dunia ini akan tampak jauh lebih indah. Kita selalu akan dapat menghargai siapa pun karena cinta yang kita arahkan kepada mereka. Berarti tidak ada lagi perendahan dari satu pribadi kepada pribadi lainnya hanya karena penampilan lahiriah, tidak ada lagi perendahan dari pribadi yang satu dengan pribadi yang lain karena ukuran kuantitatif. Semua menjadi tampak cantik.

Hal lain yang tidak boleh dilupakan adalah: cinta itu bukan melulu perasaan tetapi cinta itu juga kata kerja. Oleh karena itu cinta selalu membuat kita yang merasakannya selalu menjadi pribadi yang pro aktif. Cinta hanya bisa kita rasakan dan nikmati, jika kita memiliki keberanian untuk mencintai dengan sungguh-sungguh. Cintailah dengan sungguh, maka kita pun akan semakin kaya dengan cinta. Seberapa banyak kita mencintai, maka sebanyak itu pulalah kita akan menikmati keindahan cinta. Setelah itu tunggulah mukjizat cinta yang mampu mengubahkan diri kita menjadi lebih indah. Selamat mengembangkan dan mempraktikkan cinta.

Sumber: Majalah Bahana, Desember 2009

K R E A T I F

By: Prof. Roy Sembel

“...Sebab rancangan-Ku bukanlah rancanganmu, dan jalanmu bukanlah jalan-Ku, demikianlah firman TUHAN....” (Yesaya 55:8)

Di kalangan penentu kebijakan ekonomi dan pengamat/ akademisi ekonomi sedang ada tren berdiskusi soal ekonomi kreatif. Ada banyak sektor yang didaulat termasuk dalam sektor ekonomi kreatif, di antaranya: Periklanan, penerbitan dan percetakan, TV dan radio, film, musik, fesyen, kerajinan, teknologi informasi, penelitian dan pengembangan, dll. Sampai dengan tahun lalu, kontribusi ekonomi kreatif terhadap total perekonomian Indonesia (diukur dari total produk domestik brutto/ PDB) baru mencapai 6,3%. Dengan semakin majunya suatu negara, kontribusi ekonomi kreatif akan semakin meningkat. Di Indonesia pun diperkirakan kecenderungannya akan seperti itu. Terkait dengan tren tersebut, kreativitas akan semakin diperlukan dan semakin penting di masa depan.

Kata “kreatif” berhubungan dengan cara pikir atau pandang yang berbeda dengan arus utama (mainstream), thinking outside the box (berpikir di luar kotak), inovasi, dan sebagainya. Jadi ekonomi kreatif diharapkan menciptakan nilai tambah melalui cara baru atau dipersepsikan sebagai non-tradisional.

Kata “kreatif” tidak bisa saya temukan dalam Alkitab Bahasa Indonesia Terjemahan Baru. Kendati begitu, isi Alkitab penuh dengan hal-hal kreatif. Tuhan kita adalah Tuhan yang super kreatif. Bila tidak kreatif, mana mungkin Tuhan menciptakan alam semesta dengan begitu banyak dan beragam isi dan penghuninya. Setiap bayi yang lahir selalu berbeda.

Petunjuk Tuhan tentang strategi perang Israel menghadapi Jerikho (dengan menggunakan terompet), cara Gideon mengalahkan musuhnya (dengan memecahkan buyung), cara Musa memimpin Bangsa Israel lolos dari kejaran tentara Mesir (menerobos laut), cara Tuhan memberi makan dan minum juta-an orang Israel di padang pasir dalam perjalanan menuju Kanaan merupakan sebagian kecil dari contoh kreativitas Tuhan kita.

Beragam perumpamaan yang diceritakan Tuhan tentang Kerajaan Allah juga menunjukkan kreativitas yang luar biasa. Jawaban Tuhan terhadap “ujian” orang-orang Farisi (mempersilakan orang yang tidak berdosa untuk melempar batu pada perempuan yang tertangkap basah berzinah), secara kreatif (thinking outside the box) membungkamkan orang-orang Farisi tersebut.

Ada lagi contoh yang lebih hebat: penyelamatan umat manusia melalui pengorbanan Kristus di kayu Salib menggantikan kita, turun ke dalam kerajaan maut, dan bangkit mengalahkan maut membuat iblis (yang pada awalnya sudah merasa menang) menjadi mati kutu. Cara kreatif ini “ditiru” oleh film Narnia (Sang Singa Aslan menyerahkan dirinya untuk mati menggantikan “anak Adam” yang seharusnya dihukum mati karena kesalahannya; namun akhirnya Aslan bangkit dari kematiannya, dan seterusnya sangat mirip dengan proses penebusan dosa manusia oleh Tuhan Yesus).

Tuhan kita penuh kejutan. Cara berpikirnya berbeda dengan cara berpikir standar manusia. “...Sebab rancangan-Ku bukanlah rancanganmu, dan jalanmu bukanlah jalan-Ku, demikianlah firman TUHAN....” (Yesaya 55:8). Situasi yang terlihat buruk dari kacamata manusia, mungkin sekali diijinkan Tuhan terjadi untuk pada akhirnya menjadi berkat yang luar biasa bagi orang yang mau percaya kepada-Nya.

Jadi, kalau kita sedang menghadapi situasi yang saat ini tampaknya buruk atau dianggap bencana besar, mungkin sekali persepsi kita tersebut salah karena kita adalah manusia yang penuh dengan keterbatasan. Percayalah bahwa Tuhan kita yang super kreatif itu punya rencana yang baik dan indah serta penuh kejutan positif bagi kebaikan anak-anak-Nya. Salam WISDOM!

Sumber: Majalah Bahana, Desember 2009

Etika Kenegaraan Calvin

By: Benni E. Matindas

Tahun 2009 yang segera berakhir ini menandai, antara lain, peringatan internasional 500 tahun Calvin. Pendeta kelahiran Prancis tahun 1509 bernama asli Jean Chauvin, tonggak utama perampungan konsep gerakan reformasi gereja.

Kebesaran Johanes Calvin dikenang selamanya berkat karya-karyanya yang bermanfaat nyata dengan jejak-jelejaknya yang tak ‘kan pernah hapus. Ia mengusahakan penataan segenap aspek kehidupan manusia sebagai ungkapan iman sejati, termasuk di dalamnya tatanegara. Dan konsep tatanegaranya sudah menjadi rintisan bagi sederet raksasa pemikir ilmu negara seperti Jean Bodin (1530-1596) dan Jean Jacques Rousseau (1712-1778) yang masing-masingnya pun kemudian sudah menjadi perintis dan peletak dasar dari begitu banyak pemikiran untuk kehidupan bernegara yang lebih menjamin kemanusiaan yang sehat dan berharkat.

Dengan merujuk ayat-ayat dalam 1 Samuel 8 misalnya, Calvin menegaskan kedaulatan rakyat untuk memilih pemimpin secara sebebasnya. Pemimpin negara tidak boleh lagi ditentukan sedari sononya oleh garis keturunan, sistem pewarisan jabatan, ataupun segala kepercayaan adikodrati yang mutlak-mutlakan. Ayat-ayat Alkitab pun tak kurang menjelaskan hakikinya hak-hak politik rakyat maupun keharusan adanya hukum yang membatasi wewenang penyelenggara negara. Dan sistem senat untuk mengarahkan dan mengawasi pemerintahan, sebagaimana dibuat Musa.

Meski semuanya mengacu pada kebenaran abadi yang sudah lama diajarkan wahyu Tuhan, tapi pada zamannya Calvin ternilai sangat revolusioner. Calvin segera terpandang sebagai salah satu peretas penting untuk sistem politik modern. Sistem demokrasi dan nilai-nilai kemerdekaan yang selama berabad-abad ini telah mengawal dan membawa Amerika Serikat dan sejumlah negara Eropa barat dan utara pada kemajuan fenomenal, diakui para sejarawan, sebagai jejak rintisan Calvin yang dulu langsung ia terapkan dalam sistem pemerintahan Genewa.

Pria luar biasa cerdas namun amat rendah hati ini bahkan sudah jadi alamat kekaguman sejak zaman dahulu. Oleh segala kalangan. Baik oleh pendeta puritan John Wesley (1703-1791), maupun filsuf ateis David Hume (1711-1776).

Kecuali mengenai satu hal: kasus Servetus. Ya, ahli fisika yang gemar berteologi asal Spanyol, Miguel Serveto, tahun 1553 dihukum bakar hidup-hidup atas tuduhan penyesat. Servetus punya pemahaman berbeda mengenai ajaran Trinitas, di samping protesnya terhadap pembaptisan kanak-kanak (tradisi dalam Gereja Katolik yang tetap dipegang para Reformator dengan diberi landasan teologi baru yang berinti pada solagratia).

Umumnya pengagum Calvin akan berupaya memaklumi tindakan tersebut. Hukuman bakar memang sangat lazim dalam abad di zaman itu. Sudah tak terhitung jemaat — termasuk pengikut Calvin sendiri — yang dijatuhi hukuman bakar oleh pemerintahan gereja mayoritas, dan sebaliknya, dengan tuduhan penyesat atau penganut ajaran sesat. Bahkan tak jarang penguasa sampai mengeluarkan aturan mengenai cara pembakaran, yakni dengan nyala api yang tak boleh besar agar si terhukum tak langsung mati dan lebih lama menderita kesakitan luar biasa. Tapi banyak pula pengagum Calvin lain, sebaliknya, tetap menilai kasus Servetus itu sebagai cedera atas citra sang demokrat.

Penyesatan memang masalah besar bagi pemimpin agama. Gereja, juga negara, harus mencerdaskan warga. Ajaran harus dijaga. Ini salah satu fungsi utama gereja, magisterium. Yesus sendiri begitu memurkai penyesat. Harus dimusnahkan dari muka bumi, lebih baik mereka ditenggelamkan ke dasar laut dengan batu kilangan yang diikatkan di kaki!

Demokrasi berarti memberi kebebasan bagi pendapat dan ajaran apapun. Jangankan ajaran sesat, pelbagai ideologi anti-demokrasi diberi tempat kendati setelah berkuasa mereka pasti memberangus demokrasi itu sendiri. Dilema? Jelas!

Tapi ada kuncinya. Pencerdasan dan pengajaran warga yang dilakukan dalam sistem negara yang benar harus pada pengajaran dan penanaman nilai kasih sebagai jalan satu-satunya membentuk manusia cerdas kreatif-konstruktif. Pribadi yang cerdas kreatif akan niscaya menjauh dan dijauhi ajaran anti-demokrasi, apalagi segala ajaran sesat. Dan hukuman mati atas siapapun hanya akan tereksekusi melalui proses yang seadil-adilnya demi mengasihi serta melindungi lebih banyak manusia lainnya.

Sumber: Majalah Bahana, Desember 2009

KEKUATAN TAKDIR

By: DR. Jakoep Ezra, CBA, CPC

Sebab itu aku tidak berlari tanpa tujuan
Banyak peristiwa dalam hidup ini yang membuat kita sering berpikir tentang nasib ataupun takdir. Beberapa merasa dipermainkan oleh nasib mereka. Bahkan tidak sedikit yang akhirnya terjebak dalam dunia mistik atau klenik yang ujungnya hanya membawa maut. Banyak keputusan dan tindakan kita dipengaruhi oleh apa yang kita yakini tentang nasib atau takdir.

Kegagalan memahami arti takdir atau nasib membuat kita keliru dalam mengambil sikap dan tindakan. Akibatnya, kita justru memadamkan potensi dan talenta pribadi yang dimiliki.

Diluar Kendali
Ada dua kenyataan dalam hidup. Yaitu hal-hal yang dapat dikontrol dan hal-hal yang tidak dapat dikontrol. Kita perlu memahami dengan jelas perbedaannya. Kelahiran dan kematian merupakan takdir di luar kendali kita.

Apakah kita pria atau wanita, siapa orang tua kita, asal dari suku atau bangsa apa bahkan semua bakat atau potensi yang dimiliki, semua itu diterima apa adanya dari kelahiran kita. Jika diingkari atau penolakan terhadapnya hanya merusak tatanan takdir.

Tapi berbagai pilihan dalam hidup bukan merupakan takdir. Pilihan merupakan ekspresi kebebasan kehendak. Pilihan selalu ada dalam kendali kita. Meskipun ada pepatah tentang buah simalakama, tetapi kita tetap bebas menentukan suatu keputusan atau tindakan.

Pendidikan, domisili, profesi, pernikahan dan banyak hal lain merupakan pilihan. Nasib seseorang ditentukan oleh pilihan dan keputusannya. Karena itu hendaklah kita bijaksana dalam menentukan pilihan, terlebih untuk hal-hal yang penting dan krusial.

Memahami Takdir
Apa potensi dan bakat yang kita miliki? Sudahkah digali dan dikembangkan? Kita diciptakan untuk maksud dan tujuan hidup yang harus digenapi. Kita diperlengkapi dengan berbagai kemampuan untuk memenuhi rencana Allah dalam hidup kita.

Kehidupan bukan sekadar menjadi apa yang diinginkan atau melakukan apa yang disukai. Atau hanya sekadar berjuang untuk mempertahankan hidup. Namun, ada tiga hal yang dapat menjadi bukti kehadiran kita di dunia ini, yaitu :

Apa tujuan akhir yang ingin di capai?
Apa yang telah kita bagikan dalam hidup ini? Atau dampak apa yang sudah diberikan kepada orang lain?
Kita ingin dikenang sebagai siapa oleh orang-orang terdekat kita?
Jika ternyata kita belum merencanakan atau bahkan belum memikirkannya, mungkin ini saat terbaik untuk merenungkan dan mulai melakukan sesuatu.

Tanda Berada dalam Tujuan Hidup
• Mudah
Ada seorang gadis di Jogja yang jari tangannya cacat. Ia hobi membuat boneka dari jerami dan akar wangi. Menurutnya sangat mudah dan ia seperti bermain-main saja. Ternyata hasil kerajinan tangannya sudah menjadi industri kecil yang mulai di ekspor.

• Menyenangkan
Profesi dan karier yang kokoh selalu dibangun melalui pekerjaan yang disukai. Namun cukup banyak orang yang keliru memilih jurusan pendidikan ataupun pekerjaan. Sehingga bekerja terasa melelahkan dan membosankan. Tekunilah profesi yang sesuai dengan minat dan bakat kita, maka pekerjaan terasa lebih dinikmati dan menyenangkan.

• Produktif
Seorang pengusaha mengatakan bahwa ia sudah berhenti bekerja dan hanya melakukan hobinya. Apa hobinya? Ternyata ia hobi membangun gedung dan mall. Luar biasa.

Galilah dan kembangkan bakat dan potensi, tetapkan sasaran-sasaran yang jelas, bangun hasrat dan cita-cita yang kuat, maka kita akan mengarahkan takdir kita.

Sumber: Majalah Bahana, Desember 2009

Mutiara dari Kehidupan Daud

By: Pdt.DR.Ir. Niko Njotorahardjo

Tidak ada manusia sempurna. Orang-orang dalam Alkitab pun pernah melakukan kesalahan-kesalahan fatal. Daud salah seorang di antaranya.

Secara pribadi, saya banyak belajar dari Daud. Saya belajar dari kesalahan-kesalahan dan dosa-dosa yang pernah dilakukannya. Harapannya, dengan belajar seperti itu saya tidak jatuh dalam dosa yang sama.

Apakah yang menjadi kehebatan Daud? Kehebatan Daud dapat terlihat dalam hal-hal berikut ini.

1.Daud tidak pernah menyalahkan orang lain dan cepat-cepat bertobat.
Ketika Daud hendak dihukum oleh Tuhan melalui nabi-Nya, ia tidak pernah menyalahkan orang lain. Bandingkan dengan Saul. Ketika ditegur, ia menyalahkan orang lain. Namun Daud tidak melakukan hal itu. Saat ia dinyatakan bersalah, ia langsung mengakuinya dan segera minta ampun.

2.Daud sangat menghormati otoritas orang yang di atasnya.
Daud itu luar biasa. Hal itu tampak jelas terhadap sikapnya kepada orang yang di atasnya? Terhadap orang yang berkali-kali hendak membunuhnya. Daud diberi kesempatan untuk membunuh Saul, namun ia menolak. Ia berkata, “Aku tidak mau menjamah orang yang diurapi Tuhan! Kalau mau dihukum, biarlah tangan Tuhan saja yang menghukum!” demikianlah Daud tidak mau menjamah orang-orang yang berada di atasnya.

3.Daud berserah dan percaya bahwa Tuhan sanggup mengubah kutukan menjadi berkat.
Untuk orang-orang yang di bawahnya, seperti Simei yang memaki-maki Daud ketika Daud lari dari anaknya Absalom. Mendengar makian Simei, Abisai pengawal Daud berkata kepadanya, “Bagaimana tuanku, apakah ditebas saja batang lehernya?” tetapi di sini justru Daud memarahinya dan berkata, “Jangan lakukan itu, siapa tahu memang Tuhan yang menyuruh dia memaki-maki aku? Dia memaki-maki aku, tetapi anakku saja mau membunuh aku. Tetapi sebagai ganti aku dimaki-maki olehnya biarlah aku diberkati oleh Tuhan”. (2 Sam. 16 : 5 – 12).

Ini sungguh luar biasa. Hal-hal yang seperti dilakukan Daud itulah yang perlu kita pelajari.

4.Daud adalah orang yang sangat mengasihi Tuhan.
Yang paling luar biasa dari Daud adalah ia orang yang sangat mengasihi Tuhan. Ia seorang pemuji dan pemazmur. Daud suka bercakap-cakap dengan Tuhan. Kitab Mazmur yang berjumlah 150 pasal itu, ± 100 pasal ditulis olehnya. Dialah yang dipercaya Tuhan membawa pola surgawi dalam doa, pujian, dan penyembahan yang dilakukan di bumi.

Salah satu Mazmur yang paling saya senangi adalah Mazmur 103:1–2. Pada ayat-ayat tersebut, Pemazmur berkata, ”Pujilah TUHAN, hai jiwaku! Pujilah nama-Nya yang kudus, hai segenap batinku! Pujilah TUHAN, hai jiwaku, dan janganlah lupakan segala kebaikan-Nya!”

Bila saudara membaca Mazmur di atas, maka kita dapat simpulkan bahwa Daud sering memerintahkan jiwa dan batinnya untuk memuji Tuhan. Terus-terang, kadang-kadang kita sulit untuk memuji Tuhan. Saya juga mengakui hal ini. Terkadang saya sulit memuji Tuhan karena tekanan berat dan masalah yang menumpuk. Atau, ketika melihat sesuatu yang tidak cocok dengan hati sehingga rasanya sulit untuk memuji Tuhan. Namun, Daud tahu bagaimana caranya memuji Tuhan dalam kondisi seperti itu. Daud memerintahkan jiwa dan batinnya untuk memuliakan Tuhan. Mengapa? Sebab Daud tahu bahwa Tuhan bersemayam di atas pujian umat-Nya (Mzm. 22:4). Terkadang ada orang yang berdoa sambil mengomel minta ini dan itu kepada Tuhan. Saya harap Anda tidak melakukannya. Mengapa? Karena doa semacam ini tentu tidak dijawab Tuhan.

Sumber: Majalah Bahana, Desember 2009