Monday, September 12, 2011

Menjadi Pribadi Berharga dan Bermutu di Mata Allah

By: Pdt. David Henky Benaya

Bagi penduduk Yerikho nama Zakheus begitu populer. Kepopulerannya bukan pada sesuatu yang baik melainkan sebaliknya. Bahkan bukan hanya buruk tetapi kejam dan jahat. Dia berprofesi sebagai pemungut cukai.

Tugasnya memungut pajak dari orang-orang Israel. Waktu itu bangsa pilihan ini tengah mengalami penjajahan dari bangsa Romawi. Sebagai orang jajahan mereka harus menanggung beban berat. Diperlakukan semena-mena. Harta dan hasil usaha dikenakan pajak.

Dalam situasi demikian orang-orang yang berprofesi sebagai pemungut pajak atau cukai kerap memeras rakyat. Melebihi pajak yang dikenakan Romawi. Mereka memanfaatkan profesinya untuk memperkaya diri sendiri. Menumpuk harta di rumahnya. Hidup senang di atas penderitaan orang lain. Sejatinya mereka adalah orang sebangsanya.

Akan tetapi, sesuatu mengubahnya. Ia kini membagi-bagikan hartanya kepada orang banyak. Orang-orang yang ia peras hartanya dikembalikan. Tidak cukup itu. Kurang lebih empat kali lipat dari harta yang diperasnya dikembalikan oleh Zakheus.

Kini ia menjadi buah bibir. Orang menyebut namanya dengan hormat dan kekaguman. Bukan karena kejahatannya lagi. Tapi karena kebaikannya. Pajak yang dipungutnya dihitungnya dengan benar. Ia juga memberi keringanan kepada orang yang sulit membayar pajak. Singkatnya, si jahat telah berubah.

Mengapa Zakheus Berubah?
Karena perjumpaannya dengan Yesus Kristus! Juruslamat itu menghampirinya. Sosok yang begitu populer menghampiri Zakheus. Ia yang menyembuhkan orang luka. Membangkitkan orang mati. Bisa membuat ahli Taurat dan orang Farisi terlihat ternganga. Dia juga yang meredakan angin ribut dan mengenyangkan ribuan orang, singgah di rumah Zakheus.

Sesuatu yang di luar perkiraan. Padahal tadinya, ketika Yesus lewat Yerikho, ia hanya ingin melihat saja. Ia hanya ingin tahu seperti apa Orang Nazaret itu? Begitu banyak orang berkerumun menyulitkan dirinya yang pendek. Padahal sedikit lagi Yesus bisa saja berlalu dari Yerikho. Saking rindunya, ia mendahului orang banyak dan menaiki pohon.

Akan tetapi, apa yang terjadi? Yesus yang lewat di bawah pohon yang dinaiki Zakheus menengadah dan menyapa dirinya. Yesus kenal dia. Yesus menyebut namanya. Yesus mau menumpang di rumahnya. (Luk 19:5). Sungguh tidak terbayangkan sebelumnya.

Kini sukacita ada pada Zakheus. Yesus singgah ke rumahnya. Rumah seorang pemungut cukai. Karena sukacita ia tidak peduli sungut-sungut orang banyak. Yang penting Yesus, Juruslamat itu ada di rumahnya.

Karena sukacita ia pun berdiri dan berkata: “Tuhan, setengah dari milikku akan kuberikan kepada orang miskin dan sekiranya ada sesuatu yang kuperas dari seseorang akan kukembalikan empat kali lipat.” (Luk. 19:8)

Zakheus membuktikan bahwa kini harta tidak berarti apa–apa baginya. Kehadiran Yesus sudah lebih dari cukup. Dia telah memiliki Yesus di dalam hidupnya. Hidupnya kini berarti, berharga, bernilai, bermutu di hadapan Allah.

Perubahan yang terjadi pada Zakheus membawa perubahan besar di Kota Yerikho. Sukacitanya berimbas bagi banyak orang. Dan karena itu Allah menganugerahkan berkat yang berlimpah. Kata Yesus kepadanya; “Hari ini telah terjadi keselamatan kepada rumah ini, karena orang ini pun anak Abraham.” (Luk. 19:9)

Allah merespons Zakheus dengan luar biasa. Berkat dan kemurahan bukan hanya bagi Zakheus tapi pada orang di sekitarnya. Karena Zakheus, berkat Allah berlaku pada keluarganya, dan komunitasnya. Ia pun disebut sebagai representasi dari generasi Abraham. Tidak hanya itu, ia pun dimeterai mewakili figur Abraham. Bapa orang beriman.

Betapa berharga, bernilai, dan bermutunya Zakheus di mata Allah. Hal yang yang sama juga bisa berlaku untuk kita.

*) Penulis adalah Ketua Umum Gereja Gerakan Pentakosta (GGP), Gembala Sidang GGP Immanuel Bogor

Sumber: Majalah Bahana, Januari 2010

Tahun

By: Yonky Karman Ph.D

Tahun dapat menghebohkan? Itulah 2012. Kiamat dunia yang biasanya dijumpai dalam teks-teks apokaliptik kini difilmkan dan dikaitkan secara ilmiah dengan kehancuran bumi. Persoalan sebenarnya bukan apakah akan terjadi sesuatu pada tahun 2012, tetapi apakah kita atau anak cucu kita siap menuai bencana karena perilaku sehari-hari kita sekarang.

Sebenarnya aktivitas kitalah yang menyebabkan kita semua berada dalam bayang-bayang malapetaka global. Alan Weisman berangan-angan seandainya bumi dapat memulihkan sendiri kerusakannya (The World Without Us, 2007). Setiap pasangan nikah dengan sukarela hanya punya satu anak untuk menstabilkan populasi manusia pada akhir abad ini, yakni pada angka 1,6 miliar, kurang lebih menyamai populasi penduduk dunia pada tahun 1900. Jika itu terjadi, diperkirakan akan lebih banyak bagian Bumi menjadi daerah tak bertuan dan selamat dari kehancuran.

Menurut Intergovernmental Panel on Cimate Change (2007), selama tahun 1990-2005 terjadi peningkatan suhu di seluruh Bumi, rata-rata 0,15-0,3ºC. Jika peningkatan suhu berlanjut, diperkirakan tahun 2040, lapisan es di kutub-kutub Bumi akan habis meleleh. Udara akan sangat panas. Napas terganggu asap dan debu. Luapan air laut makin luas. Pada tahun 2050 akan terjadi kekurangan air tawar. Kelaparan meluas di seluruh dunia. Jutaan orang berebut air dan makanan.

Di Indonesia, sepanjang tahun 1980-2002 suhu Kota Medan (Sumatera Utara) meningkat minimum 0,17ºC per tahun. Denpasar mengalami peningkatan suhu hingga 0,87ºC per tahun. Salju yang dulu menyelimuti satu-satunya tempat bersalju di Indonesia, Gunung Jayawijaya di Papua, mungkin nanti tidak ada lagi. Menurut hasil studi yang dilakukan ilmuwan di Pusat Pengembangan Kawasan Pesisir dan Laut, ITB (2007), permukaan air laut Teluk Jakarta meningkat setinggi 0,8 cm. Jika suhu bumi terus meningkat, diperkirakan pada 2050 banyak daerah di Jakarta dan Bekasi akan terendam, seperti Kosambi, Penjaringan, Cilincing, Muaragembong, Babelan, dan Tarumajaya.

Sebagai negara kepulauan, Indonesia harus waspada dengan garis kedaulatan wilayah negara yang dapat menyusut. Es yang meleleh di kutub mengalir ke laut lepas dan menyebabkan permukaan laut meningkat. Pulau-pulau kecil terluar Indonesia dapat lenyap dari peta Bumi. Diperkirakan dalam 30 tahun mendatang sekitar 2.000 pulau di Indonesia akan tenggelam. Dampak sosial-ekonomisnya, jutaan orang di pesisir pulau kecil kehilangan tempat tinggal. Hancurnya aset usaha wisata pantai. Lenyapnya harta benda dan nyawa manusia. Sekarang saja sudah terasa salah satu efek pemanasan global. Hujan deras masih sering datang, meski sudah di bulan yang seharusnya musim kemarau. Pergantian musim kemarau ke musim hujan terus bergeser dan sekarang sudah berselisih nyaris sebulan dari normal.

Namun, tidak semua bencana karena efek pemanasan global. Banjir besar di negeri kita juga karena kerusakan hutan. Indonesia menjadi negara terbesar ke-3 di dunia sebagai penyumbang gas rumah kaca dari kebakaran hutan dan pembakaran lahan gambut (yang diubah menjadi permukiman atau hutan industri). Jika kita tidak menyelamatkan hutan mulai sekarang, mungkin 5 tahun lagi hutan di Sumatera akan habis, 10 tahun lagi hutan di Kalimantan, 15 tahun lagi hutan di seluruh Indonesia. Anak cucu kita tidak lagi dapat menghirup udara bersih.

Jika kita tetap boros energi, Bumi dapat sepanas Planet Mars dan tiada makhluk yang dapat hidup. Jika kita mengabaikan tanggung jawab ekologis dan terus membiarkan perusakan lingkungan, kita seperti sedang membunuh diri (ekosida). Mari kita melakukan langkah-langkah kecil mendinginkan Bumi dan membersihkan udara. Hemat memakai listrik. Memakai lampu hemat energi. Menanam pohon di lingkungan sendiri. Jika mungkin, memakai kendaraan umum. Tidak menghidupkan mesin mobil saat menunggu lama. Hemat memakai kertas lantaran bahan bakunya dari pohon di hutan. Meminimalkan pemakaian bahan plastik lantaran tidak ramah lingkungan. Mari merayakan Tahun Lingkungan.

*) Penulis adalah Rohaniwan & Pengajar di Sekolah Tinggi Teologi Jakarta

Sumber: Majalah bahana, Januari 2010

CINTAILAH TEGORAN

By: Pdt. Yohanes Sungadi, S.Th

Pada umumnya, kebanyakan manusia sulit menerima tegoran. Melalui tulisan ini saya berharap bisa menjadi bahan koreksi. Syukur-syukur mencintai tegoran. Alkitab katakan, “Jikalau si pencemooh kau pukul, orang yang tak berpengalaman menjadi bijak. Jikalau orang yang berpengertian ditegor, ia menjadi insyaf” (Ams. 19:25).



Biasanya, bila jemaat ditegor melalui firman-Nya, ada yang pura-pura mendengar, ada pula yang pura-pura mengerti, kemudian menjadi emosional dan mengancam tidak akan ke gereja atau persekutuan. Namun, ada pula yang menyadari. Akhirnya menjadi insyaf, kemudian berdoa dan bertobat. Itulah karakter manusia.



Apakah yang dimaksud dengan berpengertian itu? Alkitab mencatat bahwa orang berpengertian adalah yang mengenal Allah yang Mahakudus....dan mengenal yang Mahakudus adalah pengertian (Ams. 9:10). Jadi, orang yang mengenal yang Mahakudus adalah berpengertian.



Kita tahu bahwa Anak Allah telah datang dan telah mengaruniakan pengertian kepada kita, supaya kita mengenal yang benar di dalam Kristus. Dia adalah Allah dan kita ada di dalam yang benar dan hidup yang kekal (1 Yoh. 5:20).



Kalau kita mengenal Allah yang benar, maka kita harus beribadah dengan sungguh-sungguh. Jangan beribadah kepada ilah lain, misalnya dukun, paranormal atau orang pintar. Jadi, tegoran itu mampu mengusir kebodohan kita bila kita bersedia, menjadi insyaf dan sadar.



Apa Akibat Membenci Tegoran?



Akan Menjadi Dungu

“Siapa mencintai didikan, mencintai pengetahuan. Tetapi siapa membenci tegoran adalah dungu” (Ams. 12:1).

Orang dungu itu sulit mengerti, sama dengan orang bebal. Seperti Nabal, orang bebal suami Abigael. Nama Nabal punya arti bebal hatinya. Nabal tidak mengenal Daud sebagai panglima Israel. Ini ´kan aneh, dombanya dijagai oleh Daud dan tentara. Sehingga tidak kehilangan domba-dombanya itu (1 Sam. 25).



Akan Menjadi Tersesat

“Siapa mengindahkan didikan, menuju kehidupan, tetapi siapa abaikan tegoran, tersesat.” (Ams. 10:17).

Orang yang mengabaikan tegoran akan tersesat. Artinya, kalau ada permasalahn dalam kehidupannya ia lalu mencari orang pintar bukan mencari Tuhan. Saya punya kakak, pada waktu sakit malah mencari dukun, kemudian diberi air untuk diminum. Namun, ia malah tambah hancur. Setelah didoakan oleh orang Kristen, ia sembuh dan bekas patahnya pun tidak ada setelah di rontgen di rumah sakit. Ia akhirnya bertobat dan menjadi pendeta.



Jangan tersesat, andalkan Tuhan. Dia dokter di atas segala dokter (Jehova Rapha, Keluaran 15:26), bandingkan dengan Yeremia 17:5, 7.



Kita Akan Mati

....Dan siapa benci kepada tegoran akan mati (Ams. 15:10). Mati di sini bukan berarti mati jasmaninya, tetapi mati dalam hal rohani. Seperti Adam dan Hawa ketika jatuh dalam dosa, mereka menolak tegoran, akibatnya putus hubungan dengan Tuhan. Itulah yang dinamakan mati rohani.

Maka, mulai sekarang belajarlah mencintai tegoran. Memang tidak mudah. Tapi, siapa mencintai tegoran, karakternya akan bertumbuh ke arah Kristus.

* Penulis, hamba Tuhan yang melayani di Persekutuan Doa Bukit Zaitun Surakarta

Sumber: Majalah Bahana, Januari 2010

2010

By: Prof. Roy Sembel

“...Barangsiapa tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia, ia berbuah banyak, sebab di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa...” (Yohanes 15:5b)

Ya betul, judulnya tidak salah tulis! Bukan 2012, melainkan 2010! Tulisan ini memang bukan tentang fiksi akhir zaman seperti film bioskop yang banyak dibicarakan orang, melainkan tentang realitas yang kita hadapi di depan kita.

Tahun 2008 dan 2009 merupakan masa yang tidak mudah bagi perekonomian dunia. Sebagian besar negara-negara maju seperti AS, Jepang, dan negara-negara di Eropa mengalami pertumbuhan ekonomi yang negatif (diukur dari pertumbuhan total nilai barang dan jasa final yang dihasilkan di negara-negara tersebut dibandingkan periode sebelumnya). Di AS, misalnya, lebih dari 100 bank ditutup dan masih ada beberapa puluh bank yang berada dalam situasi tekanan finansial. Negara tetangga seperti Malaysia dan Singapura pun mengalami pertumbuhan yang negatif terutama pada paro pertama 2009. Indonesia sedikit beruntung karena bersama China dan India masih menghasilkan pertumbuhan ekonomi yang positif, meski pertumbuhannya lebih rendah dibanding periode sebelumnya. Kendati begitu, dampaknya masih terasa pahit, yaitu meningkatnya Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) dan kebangkrutan bisnis.

Tak ada seorang pun yang bisa tahu dengan pasti apa yang akan terjadi di tahun 2010. Namun demikian, apa pun yang akan terjadi di tahun 2010, kita bisa siap siaga menghadapinya dan meraih kesempatan yang telah Tuhan sediakan bagi kita. Tuhan telah menyediakan tanah perjanjian yang berlimpah susu dan madu kepada Israel. Untuk merealisasikannya, Bangsa Israel perlu bertindak dan menaklukkan tanah itu dengan pimpinan Tuhan. Tuhan kita Maha Kuasa dan Maha Pengasih. Ia telah menyediakan banyak berkat bagi kita di tahun 2010. Kita perlu bertindak untuk meraih berkat tersebut.

MENGGUNAKAN WISDOM

Apapun situasi yang kita hadapi, periode peralihan tahun merupakan momentum yang tepat untuk kilas balik melakukan evaluasi pencapaian kita selama tahun sebelumnya dan merencanakan pencapaian di tahun berikutnya. Dalam kerangka pikir W.I.S.D.O.M, inilah saatnya untuk melakukan M, yaitu “Meter, Monitor, dan Manajemen”. Artinya, kita perlu mengukur dan memantau pencapaian sampai sejauh ini dan dibandingkan dengan rencana semula.

Bila ternyata ada kesenjangan antara realisasi pencapaian dan rencana semula, kita perlu melihat kembali secara menyeluruh WISDOM-nya. Inilah saat yang tepat bagi kita untuk meminta hikmat dan petunjuk Tuhan sebelum kita melangkah lebih lanjut. Mungkin saja ada analisis awal (W = Watak, yaitu analisis situasi diri dan lingkungan) yang keliru, penetapan tujuan (I = Impian/ Ingin, yaitu tujuan jangka sangat panjang yang diuraikan menjadi target jangka pendek, menengah, dan panjang) yang kurang tepat, perencanaan strategi (S = Strategi atau Siasat, yaitu rencana perjalanan dari W ke I) yang perlu diperbaiki, pembelajaran (D = Didik, yaitu pengembangan diri untuk persiapan pelaksanaan strategi) yang belum terealisasi, pelaksanaan/ implementasi (O = Otak / Otot, yaitu kerja cerdas dan kerja keras) yang terhambat, atau bahkan indikator kinerja dan pemantauan antara (M = Meter, Monitor, Manajemen) yang tidak jalan.

Selama kita tetap tinggal di dalam Tuhan dan firman-Nya ada di dalam hati kita dan kita laksanakan, tahun 2010 akan menjadi tahun yang gemilang bagi kita. “...Barangsiapa tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia, ia berbuah banyak, sebab di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa...” (Yohanes 15:5b). Selamat Hari Natal 25 Desember 2009 dan Tahun Baru 1 Januari 2010. Tuhan berkati kita semua. Salam WISDOM!

Sumber: Majalah Bahana, Januari 2010

Teologi Politik

By: Benni E.Matindas

Perenungan sosial politik kita kali ini mengangkat tajuk sama dengan judul buku politik yang telah terhitung klasik karya Carl Schmitt (1888-1985), Political Theology. Teologi politik yang dimaksudnya bukan ajaran agama tertentu mengenai etika di bidang politik, ataupun wacana yang semacam itu. Ini bukan buku teologia, tapi sepenuhnya filsafat politik.

Konsep saya tentang negara banyak yang bertolak belakang dengan yang ditawarkan Schmitt, namun tujuannya ada benar. Khususnya niat dia untuk menyatakan pentingnya pendobrakan atas tatanan yang dijaga ketat oleh konstitusi, segala mahkamah, dan segenap aparat negara. Pembangkangan terhadap undang-undang yang berlaku. Pemutusan dari garis tertib administrasi yang rutin. Pendeknya: revolusi — yang oleh Schmitt dinilai sebagai moment illahiah, sehingga dalam buku yang terbit pertama kali dalam bahasa Jerman, Politische Theologie, tahun 1922, ini dipandang ranah teologis dalam politik.

Dengan memuliakan revolusi maka teorinya mensugestikan untuk tidak menilai sebagai seagungnya pemimpin bangsa atau sejatinya negarawan besar bila ia selama memerintah hanya menjaga kepatuhan pada UUD. Sehingga para penganut teori Schmitt tentu akan menilai kerdil pada Presiden SBY, sebab saat gonjang-ganjing perang hukum antara POLRI, Kejagung dan KPK bukan saja lamban mengambil keputusan tapi bahkan berulang mengatakan tak mau melanggar undang-undang.

Sekilas, teori Schmitt ini menggoda nalar. Tahun 1990-an, saat menyelesaikan bab tentang lembaga kepresidenan untuk buku Negara Sebenarnya, saya sampai harus berusaha menjelaskan betapa Kepala Pemerintahan bukan sekadar administrator atau eksekutor keputusan parlemen — meski memang Eksekutif dan Administrasi itulah fungsi utama pemerintahan dalam sistem negara modern demokratis. Saya berupaya menemukan rumusan yang harus lebih dari itu: Presiden adalah nahkoda bangsa di suatu zaman, yakni zaman yang dimasuki dan dijalani bangsanya berdasar panduannya yang ia paparkan sejak berkampanye sebagai politisi yang mempromosikan visinya. Itulah pula mengapa perlu sistem mekanistis yang memungkinkan visinya itu diperjuangkan dan dilegislasi dalam majelis rakyat, sebagai program pembangunan nasional, UU, maupun amandemen UUD.

Salomo hanya tampil melalui proses suksesi yang rutin menggantikan ayahnya yang mangkat, tapi terbukti menjadi maharaja dengan karya-karya luar biasa di mata dunia maupun Allah. Puluhan Presiden AS yang tampil maupun memerintah melalui proses yang sudah dipandang sebagai administrasi rutin (istilah “administrasi”

itu yang bahkan memang dipakai dalam tradisi politik kenegaraan AS, misalnya: Clinton Administration, Obama Adm.), namun terbukti masing-masingnya bisa menjulang sendiri sebagai pemimpin dunia.

Yang biasa dan rutinitas itu perlu, demi kepastian hukum dan tertib sosial yang memungkinkan warga hidup damai dan produktif, tapi yang luar biasa dan berani meletuskan revolusi pun perlu jika demi makin sempurnanya hukum dan warga makin cerdas, damai dan lebih produktif lagi.

Yang Luarbiasa tak punya hak etis maupun logis untuk meremehkan Yang Biasa, dan Yang Biasa jangan membelenggu kelahiran Yang Luarbiasa.

Tuhan memang Maha Pencipta, maka bolehlah Yang Luarbiasa, yang hanya mungkin lahir atas keputusan yang melampaui segala akal dan daya manusia biasa, yang luar biasa berani dalam mendobrak semua yang biasa, itu kita anggap sebagai moment teologis. Tetapi Tuhan pun mementingkan ketertiban, Ia setia menjaga ketetapan-ketetapan hukum-Nya, maka situasi tertib dan setia pun tak boleh untuk kita nyatakan bukan moment teologis.

Sumber: Majalah Bahana, Januari 2010

Bad News Jadi Good News

By: Oleh: Imanuel Kristo

Hampir setiap hari kita selalu mendapatkan berita, media massa memberikan kepada kita aneka berita. Dari berita-berita yang menghibur dan mendatangkan kegembiraan bagi yang mendengarnya, hingga berita yang menakutkan dan menghilangkan pengharapan bagi penerimanya. Dari berita-berita yang logis dan masuk akal sampai kepada berita-berita yang aneh dan menggelikan, dari berita yang sangat penting sampai kepada berita yang menggelikan dan sama sekali tidak penting.

Setiap kita juga selalu dapat menjadi pembuat dan penyampai berita bagi sesama kita. Kita yang selalu berkata ‘tidak pandai bicara dan tidak pandai menulis’ jika diminta secara formal dapat dengan mudah menjadi seorang yang sangat pandai merangkai kata dan kalimat. Kita yang selalu merasa tidak dapat meyakinkan orang lain, selalu dapat dengan mantap memengaruhi banyak orang dengan berita kita. Semua orang selalu dapat menjadi ‘reporter dadakan’ dan ‘penyampai berita instan’. Namun, yang menjadi perhatian saya bukan pada bagian itu, yang menjadi perhatian saya adalah berita apa yang disampaikan.

Penyampaiannya baik dan memesona, membawakannya dengan semangat dan menggebu – tetapi jika isi beritanya tidak berguna dan merusak….lalu untuk apa?

Saat ini acara infotaiment selalu dapat kita nikmati kapan saja dari semua saluran televisi di rumah kita maupun di lembar-lembar surat kabar dan tabloid yang beragam. Dan yang luar biasa para wartawan untuk segmen ini selalu memiliki berita dari para pesohor negeri ini. Mulai dari para artis sampai para petinggi negeri, mulai dari pemimpin umat sampai politisi, dari mereka yang benar-benar terkenal sampai pada mereka yang numpang terkenal. Kehidupan mereka seolah di eksplorasi sedemikian rupa tanpa memikirkan rasa dan hati. Mereka betul-betul menjadi obyek berita yang menjanjikan pada para penyaji dan penikmatnya. Bagi mereka semua berita yang buruk dan tidak terlalu baik dari obyek berita justru menjadi berita yang baik bagi penikmatnya.

Dengan konsep yang demikian maka tidaklah terlalu heran jika segala bentuk kekurangan, kelemahan, dan ketidakpantasan dari para artis dan orang-orang terkenal dikemas sedemikian rupa dengan olah kata dan kalimat menjadi sajian yang menghibur banyak penikmatnya. Di tangan mereka bad news menjadi good news. Hasilnya adalah perlakuan yang tidak manusiawi dan tidak menghargai sesama, yang penting beritanya laku dan banyak orang disenangkan, tanpa terlalu peduli bahwa ada dari sesama kita yang dikorbankan. Saat itulah pendidikan negative-aktif sedang diberlakukan: di mana setiap kita menjadi pribadi yang merendahkan yang lain. Jika hal ini tidak kita sikapi dengan arif maka negeri ini akan menjadi negeri yang penduduknya tidak terlalu peduli lagi dengan penghargaan dan perasaan sesamanya. Melalui kesempatan berbagi ini saya mengajak kita untuk memaknai secara berbeda: buatlah bad news menjadi good news secara positif aktif. Untuk itu tempatkanlah sesama kita benar-benar sebagai sesama. Pandanglah mereka bukan sebagai bagian terpisah dari diri kita, tetapi sebagai bagian yang indah dari kedirian kita.

Buatlah sesama kita menjadi pribadi-pribadi yang berharga di mata kita dan di mata sebanyak mungkin orang. Berita yang tidak terlalu baik dan tidak terlalu bermakna dari sesama menjadi kesempatan bagi kita untuk berbuat sesuatu bagi mereka. Berbuat sesuatu sehingga bad news menjadi good news bagi mereka dan bagi banyak orang. Warnailah dunia kita dengan warna kasih dan perdamaian melebihi kecenderungan yang lain. Buatlah warna itu menjadi warna dominan dalam kebersamaan kita dengan orang lain. Buatlah berita dan cerita yang indah, lalu gemakanlah menjadi senandung cinta yang menyapa setiap insan yang gundah–dan nikmatilah kebahagiaannya.

Sumber: Majalah Bahana, Januari 2010

Kekuatan Belas Kasihan

By: DR. Jakoep Ezra, CBA, CPC

Belas kasihan menggerakkan suatu kekuatan tindakan
Belas kasihan merupakan realita kehidupan yang tidak bisa diabaikan. Ia merupakan sikap yang diteladani oleh Kristus. Diawali dengan rasa belas kasihan, dilanjutkan dengan suatu tindakan nyata dan mukjizat. Belas kasihan Yesus sudah membawa dampak dan pemulihan yang luar biasa. Tapi mengapa sikap belas kasihan kita semakin gersang dan luntur?

Belas Kasihan
Ada sebuah cerita yang sangat terkenal tentang belas kasihan. Mengenai orang Samaria yang menolong seorang Ibrani yang telah dirampok dan sedang terluka. Dalam kisah ini, Yesus menggambarkan bahwa belas kasihan tidak dibatasi oleh perbedaan ras, tradisi atau status sosial. Belas kasihan bebas dari rasa pamrih dan kepentingan pribadi.

Mungkin kita teringat lagu jadul berjudul Kasih Ibu. Sebagian liriknya berkata begini, hanya memberi tak harap kembali, bagai sang surya menyinari dunia. Sinar mentari terus memancar dan menopang kehidupan di dunia ini. Setidaknya demikian seharusnya belas kasihan tetap mewarnai kesaksian dan keteladanan hidup kita.

Membuka Pintu Surga
Belas kasihan membuka pintu surga. Tuhan menunjukkan kemurahan-Nya tidak hanya kepada kita, tetapi juga melalui kita. Jika kita melakukan sesuatu dengan didasari belas kasihan, maka ada kuasa yang bekerja atas kita.

Belas kasihan bukan sekadar rasa prihatin atau bersikap simpati. Belas kasihan juga tidak pamrih dan memperhitungkan untung ruginya. Belas kasihan itu murni dan didasari oleh kasih yang tulus. Yang harus diperhatikan adalah, apakah upaya dan jerih lelah kita itu sudah tepat sasaran, tepat waktu dan tepat cara?

• Mengembangkan Sikap yang Benar
Bunda Teresa selama hidupnya dikenal sebagai ibu bagi kaum miskin di India. Ia memenuhi apa yang menjadi panggilan pelayanannya. Ia membangun komunitas biarawati yang melayani kaum papa di India. Bunda Teresa memberi ilham bagi banyak orang untuk melakukan kebajikan. Kekuatan apa yang bekerja dalam diri bunda Teresa? Belas kasihan.

Sebenarnya karakter belas kasihan seperti sumber mata air yang tak bisa habis. Namun bisa digerogoti oleh sikap pamrih atau sebaliknya seringkali dimanfaatkan secara manipulatif. Itu yang membuat kita akhirnya enggan mengembangkan sikap berbelas kasih kepada sesama. Tidak heran jika Alkitab berkata, bahwa di akhir zaman ini kasih semakin tawar.

Belas kasihan lahir dari hati yang meresponi kebutuhan mendalam dari orang lain. Menunjukkan kemurahan dan memberi pertolongan untuk menghindarkan seseorang dari kesulitan yang mendesak, penderitaan atau bencana. Bagaimana mengembangkan hati yang berbelas kasihan?

• Mampu melihat dan membedakan kebutuhan mendalam dan mendesak
Belas kasihan lahir dari hati nurani yang tersentuh oleh kebutuhan dan penderitaan orang lain. Belas kasihan merupakan respons atas permintaan tolong dan permohonan yang sungguh-sungguh bukan yang bersifat manipulatif. Karena kasih itu tidak sekadar berkurban atau menolong tetapi juga membangun dan mendidik.

• Fokus pada kasih karunia Tuhan yang diberikan kepada kita
Belas kasihan membuka pintu surga. Kita merupakan perwakilan Tuhan di dunia untuk menyatakan kemurahan dan karuniaNya. Belas kasihan selalu bekerja melalui apa yang ada pada kita, bukan yang tidak kita punyai. Kebajikan yang ditaburkan pasti akan berbuah kebajikan. Distribusi yang lancar pasti dipercayakan yang lebih besar lagi.

• Beri ruang untuk memiliki belas kasihan kepada orang lain
Kesibukan dan masalah pribadi seringkali begitu memenuhi hati dan pikiran kita, sehingga tidak ada kesempatan untuk memikirkan orang lain. Akhirnya kita menjadi egois dan hidup hanya untuk diri sendiri.

• Carilah kesempatan untuk berbuat kebajikan
Melakukan kebajikan merupakan amanat yang harus dilaksanakan. Keselamatan memang merupakan anugerah yang diberikan secara cuma-cuma, tapi perbuatan baik adalah amal ibadah yang kelak mendapat pahala.

Sumber: Majalah Bahana, Januari 2010